Minim Ruang Publik, Minat Baca Masyarakat Pandeglang Tak Lebih Dari 10 Persen

MENARAnews, Pandeglang (Banten) – Budaya membaca masyarakat Pandeglang kini dinilai mulai luntur. Hal tersebut terlihat dari angka minat baca di Pandeglang yang hanya sebesar 10 persen dari total jumlah penduduk sekitar 1.1 juta jiwa. Artinya, hanya sekitar 100 ribu penduduk yang melek membaca.

“Tingkat baca sekarang baru 10 persen, kalau dilihat dari jumlah penduduk Pandeglang yang mencapai 1,1 juta orang, berarti jumlah penduduk yang membaca sekitar 100 ribu orang. Padahal dengan membaca itu kan jadi jendela dunia. Kita akan tahu apa yang terjadi dibelahan dunia lain,” ungkap Bupati Pandeglang, Irna Narulita dalam kegiatan Gerakan Pandeglang Membaca di Pendopo Bupati, Rabu (12/10/2016).

Irna mengakui, salah satu faktor yang menyebabkan rendahnya minat baca masyarakat lantaran minimnya ruang publik. Jumlah buku bacaan yang dimiliki Pemkab pun diakui masih kurang untuk menambah wawasan masyarakat.

“Gerakan ini (Gemar Membaca) diakui belum maksimal, karena di kita masih minimnya ruang publik.  Munculnya teknologi sekarang kerap kali minat membaca karena tidak dimanfaatkan dengan baik. Oleh karenanya kita perlu melakukan Gerakan Pandeglang Membaca,”

Oleh karena itu, Pemkab akan merancang berbagai upaya guna meningkatkan minat baca masyarakat. Salah satunya, yakni dengan membangun taman pintar. Dalam rancangan itu, akan dibentuk pula 1 Taman Bacaan Masyarakat disetiap desa.

“Namun, dengan menggerakkan forum-forum dan memanfaatkan CSR, akan dikelola untuk memenuhi kebutuhan pendidikan. Kita juga akan membangun Taman Pintar dan dan Taman Al-quran. Dimana 1 TBM (Taman Bacaan Masyarakat) 1 Desa, ini menjadi taman bacaan masyarakat,” sebut Irna.

Kepala Kantor Perpusataan dan Arsip Daerah (KPAD) Pandeglang, Nuriah membenarkan hal tersebut. Pasalnya, jumlah kunjungan masyarakat umum maupun pegawai ke perpusatakaan daerah masih rendah. Sebagian besar, kunjungan ke perpusatakaan didominasi oleh kalangan mahasiswa dan pelajar.

“Budaya baca kita minim banget. Yang datang ke sini juga jarang dari pegawai atau masyarakat umum, paling mahasiswa, pelajar dan yang tinggal perkotaan saja yang datang,” keluhnya.

Padahal kata Nuriah, di perpustakaan terdapat  4 indikator yang harus dicapai, yakni jumlah judul buku, jumlah pengunjung, promosi kepada masyarakat, dan pengembangan askes perpustakaan dengan pihak lain.

“Kita sudah mengembangkan belum dengan perpustkaan lain? Di sini kita sudah mengembangkan dropbook dengan beberapa sekolah, membantu dengan meminjamkan buku ke sekolah dalam jangka waktu tertentu,” tuturnya. (Dnd)

Editor: Irdan

Comments
Loading...
error: Content is protected !!