Warga Bukit Lama Minta Buatkan Kolam Retensi Agar Tak Banjir Lagi

MENARAnews, Palembang (Sumsel) – Reses Anggota DPRD Sumsel Dapil I Kota Palembang di Kantor Lurah Bukit Lama Kecamatan Ilir Barat I, Kamis (1/9) menghasilkan keluhan warga yang meminta agar dibangunkan kolam retensi. Hal tersebut dilkukan warga supaya ke depan tidak lagi terjadi banjir.

Disampaikan Ketua RT 02 Ahmad Husin dan beberapa warga lainnya, belakangan ini sering terjadi banjir, padahal hujan yang turun saat ini terjadi di musim kemarau. Ia khawatir bila nanti masuk musim hujan dan intensitas akan lebih parah. Saat itu kata dia yang mengalami banjir karena adanya penimbunan rawa di daerahnya.

“Terjadi banjir karena penimbunan, bukan ini saja tapi RT lain juga kena. Bukan RT 2 saja, tapi juga 45 dan 33, semua banjir. Padahal selama ini tidak pernah banjir,” kata dia.

Dilanjutkannya, ‎penjelasan secara geografis daerah Kelurahan Bukit Lama dikelilingi bukit, daerah ini sendiri dulunya adalah sawah. Sejak tahun 1985-an seiring berkembangnya Kota Palembang sawah hilang dan berganti dengan rumah penduduk. Namun selama ini hal itu masih bisa teratasi dengan adanya lahan seluas lima hektar milik Taufik Kiemas yang menjadi daerah resapan.

“Tetapi sekarang sudah dijual. Akibatnya daerah itu sekarang ditimbun karena dibeli developer. Jadi tanda-tanda sudah ada sejak lama. Tetapi sekali lagi resapan ada, namun setelah dijual ditimbun tidak ada lagi resapan. Kalau di RT saya saja ada 233 kk belum daerah lain,” beber Husin, sembari menawarkan satu solusi yakni dengan membuat kolam retensi.

“Ada lahan seluas 4.000 meter persegi di dekat sini. Nah, itu punya ibunya Pak Taufik Kiemas kalau tidak salah. Itu daerahnya tertutup, siapa yang mau beli. Tidak ada akses, kecuali orang yang di sana. Ini bisa dibeli dan dibangun kolam retensi. Mudah-mudahan banjir bisa diatasi,” tambah dia.

Selain itu juga agar DPRD Sumsel meneruskan pembangunan DAM Sungai Bukit yang saat ini sedang dikerjakan.

“Contoh seperti yang dibangun di Lebak Keranji, itu bagus. Kami juga meminta agar pengembang yang menimbun lahan itu ditindak. Sebab kalau pengembang memenuhi syarat oleh pemkot ini tidak terjadi. Harus sesuai aturan,” tegasnya.

Hal serupa dikatakan K. Simbolon warga RT 43. Ia mengeluhkan penimbunan yang dilakukan pengembang. Daerah yang sebelumnya bebas dari banjir kini terendam. Simbolon mengusulkan pengawasan ditingkatkan. Jangan sampai seperti sekarang bila rakyat kecil yang melanggar tindakan tegas diambil, sebaliknya bila orang berduit ini tidak dilakukan.

“Konsep bagus, tetapi pengawasan tidak ada. Dalam surat-suratnya kan jelas ada kewajiban pengembang tetapi faktanya tidak dilakukan,” katanya.

Menjawab ini Wakil Ketua DPRD Sumsel Chairul S Matdiah berjanji akan menindaklanjutinya. Ia mengatakan akan menyampaikannya langsung ke Walikota Harnojoyo.

“Sebagai rekan satu partai akan lebih mudah menyampaikan keluhan ini‎,” ujar politisi Demokrat itu.

Ia juga mengatakan bahwasannya enam anggota DPRD Sumsel Dapil I ini memiliki anggaran dana aspirasi Rp 36 miliar. Dana tersebut untuk delapan kecamatan di Dapil I. Bila memang memungkinkan akan dikucurkan anggaran dari sini. Bila tidak, akan disampaikan langsung ke Walikota.

“Kami akan surati Langsung wali kota terkait ini. Dan saya setiap saat ketemu dengan Walikota. Nanti akan kami sampaikan,” katanya.

Semenatara itu Lurah Bukit Lama Alexander mengatakan, genangan air sudah terjadi sejak 2012 lalu.

“Jadi saat pertama kesini memang kondisinya air sudah tinggi. Dan setelah depelover masuk jadi bertambah. Warga menyadari hal ini,” kata Alexander.

Ini diperparah dengan mampetnya saluran air.

Dan Sabtu kemarin sudah kami bersihkan. Saya ajak warga gotong-royong. Sekarang aku sudah bersih dan air bisa mengalir,” katanya sembari menunjukkan foto gotong royong di ponselnya.

Terkait pengembang diakui ada pelanggaran. Dari 5 hektar yang digarap, mereka hanya ada izin 12.000 meter persegi saja. Selanjutnya ia mengaku sudah bertemu dengan DPRD Kota Palembang, BLH, Tata kota dan pihak terkait lainnya. Diputuskan pekerjaan dihentikan sembari pengembang mengurus izin. Selama izin belum lengkap diminta jangan melanjutkan pekerjaannya .

Soal usulan warga, dikatakan masih perlu waktu mengingat tanah tersebut milik orang tua Taufik Kiemas.

“Kami berharap pengembang juga membantu warga, jangan hanya membangun saja,” tutupnya mengakhiri perbincangan. (AD)

Comments
Loading...