Orang Utan Jadi Korban Senapan Angin

MENARAnews, Palangka Raya (Kalteng)- Peraturan Kepala Kepolisian RI Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api Untuk Kepentingan Olahraga khususnya pada pasal 4 ayat 3, senapan angin digunakan untuk kepentingan olahraga menembak sasaran dan penggunaanya di lokasi pertandingan dan pelatihan, masih dianggap lemah oleh kalangan masyarakat.

Sebagai bentuk kekecewaan tersebut, sejumlah organisasi masyarakat khusus pemerhati satwa liar yang ada di Kalteng seperti Centre for Orangutan Protection (COP), Jakarta Animal Aid Network (JAAN), Animal Indonesia, International Animal Centre (IAR), Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Orangutan Information Centre (OIC), Paguyuban Pengamat Burung Jogjakarta (PPBJ), Orangutan Veterinary Aid (OVAID), Koalisi Pemuda Hijau (KOPHI) Kalteng, dan Rumah Baca Bahijau (RBB) diwilayah Kalteng melakukan aksi turun ke jalan, Rabu (14/09/2016) di Jl.Yos Sudarso Kota Palangka Raya.

Dengan membetangkan spanduk bertuliskan “Senapan Angin Teror Bagi Satwa Liar”, serta bertuliskan “Senapan Angin Teror Bagi Orangutan” puluhan masa tersebut meminta kepada Kepala Kepolisian RI untuk melakukan pengawasan peredaran senjata api dan senapan angin agar diperketat lagi.

“Kita meminta aparat Kepolisian untuk melakukan razia dan menegakan hukum karena masih banyak kasus penyalahgunaan senapan api untuk memburu satwa liar” jelas Koordinator Aksi, Satria Dwi Angga Sihantoro melalui press releasenya.

Dikatakanya, korban tembak senapan angin kasusnya banyak ditemukan pada satwa liar yang diselamatkan dari korban konflik, perburuan dan perdagangan satwa liar. Sepanjang kurun waktu 2004 sampai dengan agustus 2016, lanjutnya kembali, ada sekitar 23 kasus penambakan orangutan dengan menggunakan senapan angin dalam rentang waktu tersebut.

Adapun kondisi satwa liar yang tertembak mulai dari kondisi kritis, cacat permanen sampai dengan mengalami kematian. Dinformasikan Satria, pada kasus orangutan, pemburu akan menembak induk orangutan untuk mendapatkan anaknya sebelum diperdagangkan.

Dengan kondisi tersebut, ujar Ketua Ormas COP Palangka Raya ini kembali, tentu sangat mempengaruhi kegiatan dalam melakukan konservasi kepada satwa liar, manakala perburuan dengan menggunakan senapan angin masih berlangsung.

“Kapolri harus mengambil lahkah tegas dan berani untuk melakukan tindakan pada penyalahgunaan senapan angin sesuai dengan peraturan Kepolisian RI No.8 tahun 2012 tentang pengawasan dan pengandalian senjata api untuk kepentingan olahraga” kata Sartia menambahakan.

Dirinya menegaskan, aksi turun kejalan tidak hanya dilakukan di Palangka Raya saja, akan tetapi secara serentak dilakukan di sembilan Kota yang ada di Indonesia seperti di Aceh, Palembang, Pekan Baru, Bandung, Yogjakarta, Solo, Malang, Surabaya, dan Samarinda.

Tuntutan yang disampaikan sama yakni agar Peraturan Kepolisian RI tersebut dilakukan, karena dengan ketegasan aparat terkait, kasus pembantaian satwa liar dengan menggunakan senapan angin yang dilakukan oleh orang yang tidak bertanggungjawab dapat ditekan. (Arliandie)

Editor: Hidayat

Comments
Loading...