Ritual Tiwah Digelar Secara Kolosal Meski Minim Promosi

MENARAnews, Palangka Raya (Kalteng) Bagi masyarakat di Provinsi Kalimantan Tengah, termasuk di Kota Palangka Raya  tentu tidak asing dengan pelaksanaan Ritual Tiwah, yaitu upacara keagamaan suku Dayak yang merupakan ritual terakhir untuk mengantarkan tulang orang yang sudah meninggal ke ‘Sandung’ yang sudah dibuat.

Dikota Palangka Raya, Tiwah sudah menjadi agenda tetap dan secara rutin digelar. Seperti pada, Rabu (14/09/2016), Wali Kota Palangka Raya, HM. Riban Satia secara resmi membuka pelaksanaan Ritual Tiwah yang digelar di komplek Balai Hindu Kaharingan, Jalan Tambun Bungai Kota Palangka Raya.

Ketua Panitia Pelaksana Ritual Tiwah Kota Palangka Raya, Lewis KDR mengatakan, Ritual atau Upacara Tiwah adalah bentuk implementasi tertinggi bagi masyarakat Dayak, dimana dalam kepercayaan orang Dayak, maka manusia yang meninggal  tidak akan kembali dan bersatu dengan penciptanya tanpa melalui Upacara Tiwah.

“Tiwah merupakan proses mengantarkan arwah atau dalam bahasa Dayaknya liau ke surga atau dalam bahasa sangiangnya mengantarkan ke “Lewu Tatau Habaras Bulau Hagusung Intan Dia Rumpang Tulang”. Banyak terdapat unsur-unsur supranatural dan spiritual dalam Upacara Tiwah yang akan dilalui,” ungkapnya saat diwawancara media setelah acara.

Disebutkan dia, Tiwah yang dipusatkan di komplek Balai Hindu Kaharingan tersebut menjadi agenda rutin, serta digelar tidak secara parsial (sendiri-sendiri) melainkan digelar secara bersamaan atau massal oleh beberapa orang. “Pelaksanaan dan persiapan Tiwah di tahun  ini sudah dimulai sejak tanggal 2 September lalu. Setelah melalui sejumlah tahapan ritual, baru hari ini resmi dibuka. Sedangkan berakhirnya pelaksanaan ritual Tiwah yakni tanggal 24 Oktober 2016 nanti. Ritual ini setidaknya diikuti 117 orang secara massal,” jelasnya.

Sementara itu  Ketua  Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan (MB-AHK), Walter S Penyang mengatakan, pelaksanaan ritual Tiwah memiliki arti penting bagi masyarakat Dayak, terutama bagi umat Agama Hindu Kaharingan terutama dalam menceritakan proses awal kehidupan manusia serta akhirnya.

Menurut Walter, banyak hal yang dapat diakomodir dari kegiatan Ritual Tiwah tersebut. Namun sayangnya Tiwah yang digelar secara kolosal (massal) yang dilaksanakan pihak MB-AHK tersebut  dinilainya kurang mendapat dukungan terutama minimmya sarana untuk mempromosikan bahwa ritual Tiwah memiliki nilai-nilai agama dan unsur budaya serta supranatural maupun spiritual yang tinggi.

“Sesungguhnya ritual Tiwah ini, bila bisa diakomodir sangat tinggi nilainya terutama untuk menarik minat wisatawan baik domestik maupun mancanegara,” cetusnya.

Adapun dalam kesempatan tersebut Wali Kota Palangka Raya, HM. Riban Satia mengatakan, Tiwah merupakan ritual yang dimiliki masyarakat Dayak, yang nilai religiusnya sangat tinggi terutama bagi umat Hindu Kaharingan.

“Seperti pelaksanaan ritual Tiwah di Balai Kaharingan ini, saya ingin komplek ini lebih ditata lagi, agar dapat menjadi pusat menjaga dan melestarikan budaya luhur umat Kaharingan khususnya masyarakat Dayak,”ujar Riban.

Ia pun tidak menepis bila, masih lemahnya upaya untuk mempromosikan nilai.nilai budaya yang dilakukan setiap pelaku kepentingan, termasuk kurang dimanfaatkannya pelaksanaan ritual Tiwah sebagai sektor nyata yang dapat menghasilkan sumber pemasukan bagi pemerintah daerah.

“Bagaimana pun pemerintah, terutama pemko tetap membantu dalam segi anggaran, walaupun hanya untuk menunjang sebagain kecil saja bagi pelaksanaan Tiwah. Tapi kedepan, Ritual Tiwah akan menjadi perhatian bersama terutama bagaimana upaya mempromosikan dengan nilai lebih, khususnya bagi pihak luar,” tutupnya. (Agus Fataroni)

Editor: Hidayat

Comments
Loading...