Pakar Ekonomi Aceh : Jelang Pilkada, Jangan Lupakan Ekonomi Rakyat!

MENARAnews, Banda Aceh (Aceh) – Menjelang pergantian kekuasaan di Aceh, tahun 2016 sudah menjadi tahun politik untuk pemilihan kepala daerah. Namun, ada hal yang sangat penting dilakukan sehingga ekonomi rakyat tidak terganggu apalagi terpuruk.

Hal tersebut diungkapkan oleh Pakar Ekonomi Aceh, Dr. Amri, M. Si, Kamis (15/9). Dirinya menjelaskan, pesta demokrasi untuk pemilihan kepala daerah di Aceh sebuah merupakan proses peralihan kekuasaan, bukan merebut kekuasaan.

“Tour of duti (pemindahan tugas,red) sudah biasa terjadi di sebuah negara, pemerintahan maupun diinstansi,” tutur Dr. Amri.

Ia menilai, peralihan kekuasaan dengan cara yang baik dan demokratis sebagai siklus 5 tahunan untuk mencari dan memilih calon kepala daerah yang dipilih oleh rakyatnya. Siapapun kandidatmya harus bersaing dengan cara-cara damai, jurdil dan tidak perlu ribut apalagi mengedepankan sebuah kekerasan.

“Siapa pun yang terpilih itulah pemimpin kita,” jelas, Dosen Pasca Sarjana Unsyiah ini.

Sementara itu, Pihaknya menerangkan, sebuah negara maju tidak bisa dilepaskan dari perkembangan ekonominya ditengah – tengah masyarakat. Kondisi saat ini di Aceh sedang euforia dengan Pilkada dan mulai melupakan ekonomi rakyat.

“Kita berharap jangan lupakan ekonomi rakyat,” pintanya lagi.

Menurutnya, korelasi antara Pilkada dan ekonomi rakyat sangat erat hubungan dalam mengembangkan kesejahteraan rakyat. Salah satu cara untuk meningkatkan dan mengembangkan ekonomi rakyat, pemerintah dapat merealisasikan proyek APBN, APBA maupun APBK.

Ia mengatakan, ekonomi rakyat adalah realisasi anggaran agar uang itu beredar ditengah masyarakat, sehingga uang yang beredar dalam masyarakat akan diperolehnya melalui proses kegiatan ekonomi di lapangan.

“Ekonomi sudah nampak membaik tapi belum begitu maksimal,” jelas Dosen Fakultas Ekonomi Unsyiah ini.

Dia menjelaskan, maksimalnya perekonomian rakyat bila anggaran sudah terealisasi mencapai 80-90 persen. Namun, sekarang ini masih dibawah itu.

Dengan dana otsus yang merupakan kompensasi untuk Aceh karena konflik dan Tsunami yang melebihi anggaranya dibandingkan Provinsi Sumatra Utara (Medan). Amri menilai, realisasi anggaran di Aceh masih lambat dan investor pun masih sangat kurang, sehingga pertumbuhan ekonomi terkesan lamban berjalan

“Kita melihat juga belum tepat sasaran dalam mengelolanya,” ungkapnya.

Amri menjelaskan, seharusnya the Right man, on the right place, on the right time, artinya, kasih pekerjaan itu pada orang yang punya energi. (RF)

Comments
Loading...