Kondisi Karhutla di OKI 70% Lebih Baik Dibandingkan Tahun Sebelumnya

MENARAnews, OKI (Sumsel) – Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dikenal sebagai daerah dengan bencana Karhutla terparah di Sumsel pada tahun 2015. Namun di tahun 2016, seluruh pihak di Kabupaten OKI melakukan kemajuan dengan memperbaiki koordinasi antar lembaga terkait dalam penanganan Karhutla

“Untuk memepercepat koordinasi, dibuat grup WhatsApp (WA) OKI Tanggap Api yang diisi berbagai pihak seperti Sekda, Camat, TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, Dinas Kehutanan, Dinas Perkebunan, Dinas Pertanian, hingga tokoh-tokoh masyarakat setempat di daerah rawan Karhutla,” sebut Kepala Kantor Manggala Agni Daops III OKI, Tri Prayogi saat ditemui pada Selasa (6/9).

Ia juga mengungkapkan setiap temuan hotspot akan langsung dikomunikasikan dengan instansi terkait.

“Apabila ada temuan hotspot atau firespot melalui satelit, selain melakukan ground check atau pengecekan secara langsung, kita bisa minta tokoh masyarakat yang terdekat dari lokasi untuk melakukan pengecekan apabila lokasinya sulit dijangkau melalui grup WA. Dengan ini, penanganan dapat dilakukan secara cepat. Bahkan, kita bisa menyampaikan ke BPBD Provinsi Sumsel untuk melakukan water bombing jika diperlukan,” sebutnya.

Dirinya menambahkan, patroli Karhutla tetap dilakukan walaupun saat ini kita memasuki musim kemarau basah dengan curah hujan yang cukup. Padahal, hujan yang turun menjaga bahan bakar yang ada di alam seperti semak dan gambut masih cukup basah sehingga sulit terbakar.

“Untuk patroli, dilakukan dengan pendirian posko-posko di daerah-daerah rawan Karhutla. Saat ini, terdapat total 10 posko yang dua diantaranya didirikan BPBD terletak di Ds. Riding Kec. Pangkalan Lampam dan Ds. Ulak Kedondong Kec. Cengal. Sementara Manggala Agni telah mendirikan posko dengan biaya APBN melalui Kementrian LHK di 8 titik antara lain Ds. Ujung Tanjung, Ds. Pulau Beruang, Ds. Toman (Kec. Tulung Selapan), Ds. Riding, Ds. Deling (Kec. Pangkalan Lampam), Ds. Pulau Geronggang (Kec. Pedamaran Timur), Ds. Cengal (Kec. Cengal), dan Ds. Sungai Menang (Kec. Sungai Menang),” sebutnya.

Menurutnya, penyuluhan menjadi hal yang penting untuk dilakukan pada kondisi saat ini.

“Saat kondisi lahan masih basah seperti ini, titik berat kehadiran kami (Manggala Agni) di lapangan tidak untuk melakukan pemadaman, namun melakukan pencegahan melalui penyuluhan-penyuluhan kepada masyarakat terkait bahaya dan sanksi hukum apabila melakukan pembakaran. Tinggal masyarakat yang menentukan apakah mau diajak atau tidak,” jelasnya.

Pemerintah melalui TNI yang dilaksanakan secara langsung oleh Kodim dan Koramil setempat juga melakukan pembuatan lahan sawah basah yang dapat digunakan secara permanen bagi warga. Hal ini dilakukan untuk mencegah pembakaran lahan yang dilakukan dengan cara membakar untuk pertanian sawah sonor atau penanaman padi dengan cara membakar semak rumput di lahan gambut.

“Pihak TNI juga melakukan pengawasan secara langsung terkait pengolahan lahan persawahan tersebut.

Secara umum, penanganan bencana Karhutla tahun ini disebutnya jauh lebih baik. “Di bulan yang sama, kondisi saat ini 70% lebih baik dibandingkan tahun lalu,” sebutnya. (BA)

Comments
Loading...