DAD Diharap Mampu Bersinergi Dengan Pemerintah Daerah

MENARAnews, Palangka Raya (Kalteng) – Pelaksanaan Musyawarah Daerah Ke-II Dewan Adat Dayak (DAD) Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2016 direncanakan diadakan pada hari Sabtu 10 September 2016 di Betang Hapakat, Jl. RTA Milono Km.3,5 Kota Palangka Raya sekitar pukul 09:30 WIB.

Wakil Ketua Panitia pelaksana Musda DAD Kalteng, Yansen A. Binti meminta kepada seluruh masyarakat Kota Palangka Raya atau wilayah lainnya untuk meluangkan waktu menyaksikan pelaksanaan Musda DAD yang dilaksanakan lima tahun sekali ini.

“Saya ingin menyampaikan kepada kita semua kalau pelaksanaan Musda DAD Kalteng kali ini dapat lebih maju lagi, dimana kegiatan ini nantinya dapat menghasikan produk-produk serta pengurus-pengurus yang baru untuk memajukan wilayah Kalteng kedepanya.” jelas Yansen A.Binti, Rabu (08/09/2016) di Dinas Sosial Provinsi Kalteng.

Disampaikannya, diharapkan dengan kepengurusan DAD yang baru nantinya bisa berkolaborasi dengan Pemerintah Daerah yang nantinya akan melahirkan peraturan-peraturan daerah yang kuat khususnya untuk kemaslahatan masyarakat adat dayak.

Ditambahkan Guntur Talajan selaku Ketua Panitia Musda Ke-II DAD Kalteng berdasarkan Surat Keputusan DAD Provinsi Kalteng No.05/DAD-KTG/KPTS/IV/2016 tersebut, menginginkan agar kehadirian Presiden Majelis Adat Dayak Nasional yakni Cornelis, beserta tokoh dayak lainya bisa hadir.

Sementara itu, Ketua DAD Kalteng, Sabran Achmad menyampaikan kepada seluruh masyarakat yang ada di Kalimantan Tengah dan sekitarnya, masyarakat dayak dari dulu sampai dengan sekarang berpegang teguh kepada falsafah hidup yakni “Huma/Budaya Betang”.

“Dalam falsafah Huma Betang, ada empat pilar yakni hidup dalam kejujuran dan betakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, kedua masyarakat dayak hidup dalam kesetaraan tidak ada istilah darah biru, ketiga hidup dalam kebersamaan, terakhir, abdi hukum baik hukum negara, adat dan lainya,” jelas Sabran.

Dikatakanya kembali, dengan filsafah tersebut, Kalimantan Tengah dianggap sebagai satu betang atau rumah yang sangat besar, yang mana masyarakat dayak saat ini tidak pernah menolak masyarakat-masyarakat yang bukan orang dayak, dan tentunya orang dayak sangat senang dan setuju kalau masyarakat yang bukan orang dayak ikut tinggal didalam rumah betang ini.

Ditambahnya kembali, tentu dengan tinggal di atap dan ditempat yang sama, maka jika ada permasalahan, akan diselesaikan secara bersama-sama pula dan tentu bersatu di dalam NKRI.

“Itu perlu dipahami betul-betul, kalau Betang itu milik masyarakat dayak yang ada. Meski demikian masyarakat dayak tentunya tidak juga hidup menyendiri, tetapi tentu adanya sinergitas dari masyarakat yang bukan orang dayak. Mari kita tingkatkan filsafah Huma Betang,” tutupnya. (Arliandie)

Editor: Hidayat

Comments
Loading...