Usung Kader Perlu Kajian Matang

MENARAnews, Jambi – Tahapan pendaftaran pasangan calon (Paslon) yang akan maju di pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2017 tidak lama lagi akan digelar, tepatnya tanggal 19 September mendatang. Namun hingga kini sejumlah kader partai politik (Parpol) belum juga mendapat kepastian dari partainya.

Diantara kader-kader potensial Parpol sebut saja seperti Eka Malina Madjid Muaz asal PKB yang akan maju di Tebo, Bambang Bayu Suseno (BBS) asal PAN yang akan maju di Muarojambi. Berbeda nama lain seperti Masnah Busro dan M Madel sudah dapat dipastikan tak dapat menggunakan jasa Golkar tempat mereka bernaung.

Pengamat Politik yang juga Dosen Fisipol Universitas Jambi (Unja), Muhammad Farisi, menyebutkan Parpol saat ini masih mempertimbangkan nama yang akan diusung. Meski dilain pihak kandidat seperti Ivan Wirata (IW), Cek Endra (CE) dan Sukandar telah resmi mendapatkan dukungan beberapa parpol.

“Perlu pertimbangan matang sebelum Parpol memutuskan nama yang bakal diusung,” ujar Dosen muda ini.

Selain itu, kata dia, Parpol juga sedang membahas posisi di Pilkada. Dengan kata lain, sedang mengatur komposisi, apakah mengambil posisi nomor satu atau nomor dua.

“Selain nama, Parpol juga mempertimbangkan posisi kandidatnya, apakah posisi satu atau dua,” ungkapnya.

Dijelaskan, Parpol dalam bersikap tentu akan mempertimbangkan elektabilitas kadernya. Dimana, melihat sejauh mana peluang untuk menang.

“Kalau surveinya tinggi, bisa di posisi satu. Kalau tidak, Parpol akan melakukan koalisi untuk mendongkrak elektabilitas suara dukungan,” terangnya.

Tidak hanya itu, pertimbangan selanjutnya melihat peluang dan mengkoordinasikan kandidat yang bakal dipasangkan.

“Meskipun parpol cocok dengan kandidat, belum tentu kandidat itu mau. Ini bicara masalah posisi. Calon dengan surveinya tinggi mana mau diposisikan wakil,” urainya.

Sementara itu, Pengamat Politik dari Idea Institut, Jafar Ahmad menilai parpol terkesan berat mengusung kader internalnya setelah melihat hasil survei.

“Parpol tidak mau memaksakan kadernya apabila surveinya rendah,” ujar Jafar.

Dirinya melihat fenomena ini sebenarnya telah terjadi pada beberapa Pilkada sebelumnya. Dimana Parpol menilai kader tak mampu menunjukkan kekuatanya, sehingga Parpol harus menentukan pertimbangan lain.

“Parpol akan melihat kandidat yang berpeluang besar, sehingga Parpol harus mendukung kader lain,” paparnya.

Dia menambahkan, jika harus mengusung kandidat lain yang mempunyai peluang tinggi sementara telah direbut partai lain. Sehingga, parpol harus mengkaji lebih matang calon yang akan diusung.

“Pastilah dilema, karena calon yang peluangnya tinggi sudah di ambil partai lain. Sehingga mau tak mau parpol jadi dilema menentukan nama,” tandasnya. (GWA)

Comments
Loading...