Tersangka Percobaan Bom Bunuh Diri Harus Diproses Dengan Peradilan Anak

MENARAnews, Medan (Sumut) – Tersangka percobaan bom bunuh diri dan penyerangan di Gereja Katolik Santo Yosep, IAH yang belum genap berusia 18 tahun akan dijerat pasal berlapis oleh kepolisian. 

Pasal yang disangkakan adalah UU terorisme, UU darurat dan Pasal 340 KUHPidana subsider Pasal 338 KUHPidana. Pasal yang akan diterapkan dinilai kurang ideal oleh Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait.

Dia beranggapan kepolisian harus menerapkan sistem peradilan anak.

“Seharusnya dilihat, kalau dia masih anak-anak, harus digunakan Undang-undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Bisa saja dikaitkan dengan pidana terorisme, tapi harus dilihat bahwa ini anak-anak,”ujar Arist, Senin (29/08/2016).

Dalam UU tentang terorisme tidak disebutkan soal anak. Namun karena IAH masih tergolong anak, maka Arist menegaskan agar tersangka diproses menggunakan sistem peradilan anak.

“Di undang-undang tentang terorisme memang tidak disebutkan khusus soal anak. Tapi karena dia memang anak, sistem peradilan pidana anak yang harus digunakan. Undang-undang tentang sistem peradilan pidana anak itu spesialis untuk melindungi anak-anak yang menjadi pelaku tindak pidana,”tambahnya.

Pasal yang menjerat IAH bisa jadi mendapatkan hukuman maksimal. Arist kembali menegaskan tersangka hanya bisa dihukum maksimal 10 tahun penjara.

“Jadi tidak ada hukuman mati untuk anak. Kasus ini beda dengan pidana terorisme lainnya. Ini harus jadi perhatian polisi dalam menyelidiki kasus ini,”tandasnya. (Yug)

Comments
Loading...