Petani Rotan Bersama DPRD Akan Desak Gubernur Kalteng Terkait Harga Rotan

MENARAnews, Sampit (Kalteng) – Semakin merosotnya harga rotan dalam negeri mengakibatkan dampak buruk pada kelangsungan salah satu komoditas unggulan Provinsi Kalteng ini. Pasalnya dengan adanya peraturan larangan ekspor rotan mengakibatkan komoditas rotan mengalami penurunan harga yang mencapai 50 persen. Hal ini juga dirasakan oleh petani rotan di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur dan menimbulkan semangat menyuarakan melalui DPRD Kotim.

Pekan depan DPRD Kotim, akan mengundang seluruh Kepala Desa yang ada, guna mencarikan solusi soal harga beberapa komoditas khususnya rotan. Mereka juga akan mendesak Gubernur Kalteng, Sugianto Sabran untuk berani menyampaikan persoalan masyrakatnya itu kepada pemerintah pusat.

“Pekan depan rencana akan dijadwalkan pertemuan antara Dewan dan para kades serta pengusaha rotan untuk mendesak gubernur soal harga rotan yang kini tengah terpuruk,” ujar anggota DPRD Kotim, Dadang H Syamsu, Rabu (31/08/2016).

Menurut Dadang, point utama yang dihasilkan nantinya bermuara kepada desakan untuk Gubernur Kalteng agar menyampaikan ke pemerintah pusat bisa merevisi atau mencabut aturan tentang larangan ekspor rotan. Cara itu dianggap jitu dan solusi terakhir dari kalangan asosiasi petani rotan.

“Itu salah satu solusi yang akan kita tempuh, karena hampir lima tahun ini kondisi petani terpuruk, ” tegasnya.

Dadang juga mengungkapkan, di Kotim untuk 4 kecamatan saja bisa menghasilkan 30 ribu ton rotan basah setiap bulannya. Besarnya angka produksi itu membuat komoditas itu tidak bisa ditampung secara maksimal di dalam negeri. Karenanya ekspor rotan mentah itu merupakan solusi untuk menaikan harga normal kembali.

Berdasarkan perkembangan harga komoditas pasar dalam negeri, Harga normal rotan berada di kisaran Rp. 300 – 350 ribu per-kwintal. Namun saat ini harga rotan mengalami penurunan drastis hingga mencapai Rp.150 – 200  ribu per-kwintal. (K/Dayat)

Editor: HIdayat

Comments
Loading...