DPRD Sumsel Nilai Kenaikan Harga Rokok Tak Begitu Berpengaruh Di Sumsel

MENARAnews, Palembang (Sumsel) – Adanya kabar kenaikan harga rokok akan berdampak baik bagi kesehatan, namun negatifnya pendapatan negara ataupun daerah akan berkurang mengingat rokok merupakan penyumbang devisa terbesar. Hal tersebut dikatakan oleh DPRD Sumsel melalui Komisi II. Terlebih kenaikan harga rokok yang mencapai nominal Rp 50.000 per bungkusnya.

Dikatakan Ketua Komisi II, Joncik Muhammad, jika harga rokok melambung tinggi, maka konsumsi rokok akan berkurang dengan demikian pendapatan negara dari cukai rokok ikut berimbas. Menurutnya, pemerintah harus mencari program jangka panjang untuk mensiasati kenaikan harga rokok tersebut. Sehingga meskipun harga rokok mahal dan konsumennya sedikit namun pendapatan negara tetap besar.

“Positif untuk kesehatan, negatif untuk pendapatan,” kata politisi PAN ini, Senin (22/8).

Sambung Joncik, di Sumsel sendiri kenaikan harga rokok tak berpengaruh terhadap ekonomi masyarakat. Pasalnya Sumsel bukan Provinsi penghasil tembakau. Berbeda dengan Wonosobo yang merupakan penghasil tembakau untuk industri.

“Kalau di Sumsel tak berpengaruh, karena sedikit petani yang lahannya ditamani tembakau, berbeda dengan Wonosobo yang memang lahannya ditanami tembakau untuk industri rokok,” tutup Joncik.

Sementara Humas Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) Hananto, ketika di hubungi wartawan MENARAnews melalui telepon genggamnya mengatakan, kemungkinan terjadinya kenaikan harga rokok berkisar 5-6 persen saja dari harga pasaran saat ini. Kenaikan tersebut dengan asumsi perhitungan pertumbuhan ekonomi berkisar 5,3 persen dan inflasi 4,8 persen.

“Jadi hitungannya terjadi kenaikan 6 persen saja,” ucapnya.

Menurut dia, kenaikan harga rokok yang berkisar menjadi sekitar Rp 50.000/bungkus tersebut merupakan kebijakan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Karena pemerintah saat ini masih membahas regulasi kenaikan cukai rokok yang kisaran kenaikannya 5-6 persen.

“Nah itu tidak ada kebijakannya, karena tidak ada kenaikan hingga mencapai 150 persen dari harga biasa,”kata dia.

Oleh karena pemberitaan di media sosial tersebut, sambungnya, juga memperburuk saham tembakau.

“Tadi pagi IHSG dibuka dan saham rokok berjatuhan bahkan ada yang mencapai 350 poin,”pungkas Hananto. (AD)

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
3,034PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles