Begini Kronologis Percobaan Teror Bom Gereja Katolik Versi Pastor Albertus

MENARAnews, Medan (Sumut) – Pastor Albertus Pandiangan bercerita kronologis kejadian percobaan bom bunuh diri yang dilakukan oleh IAH (18) saat ia tengah berkotbah. 

Sekitar pukul 08.00 WIB, seisi gereja geger ketika seorang pria berlari kearah altar sambil membawa tas. Pagi itu, jemaat melakukan ibadah seperti biasa. Pastor Albertus tidak melihat ada tanda-tanda teror sebelum ibadah berlangsung.

“Saya mulai acara pembukaan dengan baik, akhirnya sampai pada acara pembacaan injil, umat sudah berdiri,” kata Pasor Albertus saat ditemui di Sekretariat Paroki Santo Antonius Dari Padua, Jalan Hayam Wuruk, Medan, Senin (29/08/2008).

Saat pastor masih membaca Injil, terdengar suara ledakan-ledakan dari dalam tas yang dibawa pelaku.

“Setelah berdiri, itu saya belum selesai membaca, itu ada suara ledakan-ledakan dari tas. Orang itu yang duduk di urutan ke tujuh atau ke delapan saya tak tau persis. Jadi saya lihat api, ledakan, maka saya menghentikan pembacaan kitab suci. Kemudian umat sudah mulai takut dan berhamburan,” ujar Pastor.

Pelaku langsung berlari menuju altar tempat Pastor berdiri. Pastor Albertus langsung berpikir bahwa yang dibawa pelaku adalah bom. Karena tas yang dibawa penuh dengan nyala api.

Jemaat yang panik langsung berhamburan keluar dari gereja. Sedangkan pelaku tetap berlari menuju altar tanpa ada yang menghalangi.

“Karena saya ada di mimbar, saya pikir ini mengarah kepada saya. Berdasar dari pengalaman dan cerita yang ada, saya terus berpikir itu bom. Makanya saya coba menghindar. Saya tidak mau berpelukan dengan dia atau dipeluk sama dia,” ungkapnya.

Secara fisik, lanjut Pastor, dia bisa melawan. Namun Pastor takut pelaku terjatuh dan memeluknya.

“Pikiran saya hanya bom, maka saya akan mati dan dia mati. Karena dia sudah nekat,” imbuhnya.

Saat pelaku semakin dekat, disitulah Pastor meompat turun dari altar. Jarak antara altar dan tempat jemaat cukup jauh. Saat melompat inilah pastor merasakan ada tusukan di lengan kirinya.

“Saya rasa saat saya lompat itu saya merasa ada yang menusuk,” ujarnya.

Ketika pastor sudah ada di bawah, beberapa jemaat mengatakan kepada pastor agar diungsikan ke mobil jemaat. Karena ada yan mengatakan kepadanya kalau bisa saja dirinya adalah target teror tersebut. Saat itu juga Pastor dilarikan ke Rumah Sakit Elisabeth untuk mendapat perawatan karena luka tusukan yang dideranya.

“Saya pikir kok ada sasarannya kepada saya. Saya tidak punya musuh, tidak punya orang yang dendam. Saya langsung dibawa ke rumah sakit. Satu jam di rumah sakit saya kemudian kembali lagi kesitu,” katanya.

Pastor Albertus sama sekali tidak megenal pelaku percobaan teror bom yang kini tengah diperiksa kepolisian. Dia pun tak mengetahui, apa motif dibalik penyerangan.

Dia meminta pihak kepolisian untuk mengungkap kasus tersebut. “Supaya semua menjadi terang dan baik,” katanya.

Pascakejadian, Pastor Abertus mengaku tidak trauma. Saat ini dia sudah dalam keadaan bik-baik saja. Dia juga mengaku tidk dendam terhadap pelaku. Hanya saja dia tetap meminta agar pelaku dihukum setimpal.

“Kalau saya sudah biasa saja dan tidak trauma, saya juga tidak dendam dengan siapapun karena dia tidak tau apa yang diperbuatnya,” pungkasnya. (yug)

Comments
Loading...