Aksi Teror Terjadi Lagi, Mahasiswa Anggap Deteksi Dini Intelijen Lemah

MENARAnews, Jakarta – Badan Intelijen Negara (BIN) kembali menjadi sorotan publik khususnya Mahasiswa pasca aksi teror di Medan, Sumatera Utara. Sentral Kajian Strategis (SKS) Mahasiswa menganggap deteksi dini intelijen lemah.

Kegagalan deteksi dini oleh BIN selaku koordinator intelijen membuat mahasiswa bingung harus mengandalkan siapa dalam melakukan deteksi dini.

“Hari ini siapa lagi yang bisa menjadi intelijen jika BIN sudah gagal melakukan deteksi dini” ungkap Fandi, Mahasiswa Universitas Terbuka dalam diskusi di Kedai Kopi Perjuangan, Jalan Proklamasi Jakarta Pusat (29/8/2016).

Dalam kesempatan yang sama, pengamat intelijen, Irwan Suhanto mengangap Intelijen Indonesia menjadi lemah karena Jabatan kepala BIN adalah Jabatan Politis.

“Kita harus menyadari bahwa posisi jabatan KA BIN adalah jabatan politis.” ungkap irwan dalam diskusi yang bertema “Deteksi dini intelijen lemah, apa kata Mahasiswa.”

Meskipun Kepala BIN merupakan jabatan politis, Irwan berharap Kepala BIN memiliki 3 hal. “Ka bin harus punya Pengetahuan intelijen, Ka bin harus punya pengalaman aktivitas di dunia intelijen dan Ka bin pernah memimpin atau berada dalam organisasi intelijen” tambahnya Irwan.

Mahyudin Rumata mengamini pernyataan Irwan. Ia menilai personil BIN termasuk Kepala BIN harus memiliki kemampuan khusus.
“Personil BIN adalah orang yang memiliki kemampuan khusus di bidang intelijen. Sehingga kepala bin juga harus yang memiliki kemampuan khusus, bukan hanya jabatan politis.” (RF)

Comments
Loading...