spot_img

Sosialisasi Perubahan Iklim Digelar di Aceh

MENARAnews, Banda Aceh (Aceh) – Acara Sosialisasi perubahan iklim dan tindak lanjut pasca COP-21 Paris yang berlangsung di Hotel Pade (20/7), Banda Aceh membahas isu terkait perubahan iklim dunia dan peran tiap daerah. Acara yang dihadiri oleh enam narasumber perwakilan kementerian dan dinas terkait menjelaskan dampak yang terjadi dari adanya perubahan iklim serta cara menguranginya.

Pertemuan ini dinilai penting untuk penyempurnaan Elaborasi Indeed Nationally Determined Contribution/INDC ke dalam Nationally Determined Contribution/NDC terutama terkait target kontribusi Indonesia dalam penurunan emisi 2020 – 2030. Hal tersebut diungkapkan Agus Justianto, Staf Ahli Menteri LHK bidang Ekonomi Sumber Daya Alam dalam sambutannya.

“Masukan dari daerah dapat membuat dokumen NDC Indonesia nantinya akan semakin dekat dengan implementasi tingkat tapak,” imbuhnya.

“Upaya pemerintah sampai saat ini sudah menyusun NDC. Ada target pengurangan emisi per sektornya 29% dengan upaya sendiri atau 41 % dari dukungan internasional,” jelasnya.

Selain itu, Tony Wardoyo, anggota Komisi VII DPRA, menilai pentingnya peran Aceh dan Papua, dua kawasan yang terletak di ujung Negara Indonesia dalam peran pengurangan emisi karbon.

“Hutan di Aceh dan Papua masih banyak, kita harus bisa menjaga kelestariannya,” papar Tony Wardoyo yang juga sebagai narasumber dalam acara ini.

Sesuai dengan penjelasan Kepala Dinas Kehutanan Aceh, Ir. Husaini Syamaun, MM,  secara nasional dan khususnya di Sumatera, hutan yang berada di Provinsi Aceh adalah yang terbaik. Dengan komposisi sebanyak 23 persen dari total luas hutan di Sumatera, Aceh mempunyai peran yang cukup besar. Meskipun, kerusakan hutan di Indonesia terjadi dimana-mana, upaya deforestasi yang dilakukan harus bisa menguranginya.

Di sisi lain, melihat kondisi ekonomi masyarakat yang ada saat ini, dimana masih membutuhkan lahan, perambahan menjadi salah satu kegiatan yang tidak bisa dihilangkan dengan cepat.

“Kita mempunyai progam pembindaan petani yang tidak ada lahan dan biasanya melakukan perambahan. Nantinya, kita akan akomodir petani itu dan diberikan pembinaan, contohnya penanaman pohon yang menghasilkan buah di kawasan hutan lindung,” jelasnya.

Program tersebut diharapkan dapat dimaksimalkan oleh petani-petani di daerah, agar nantinya mereka dapat meningkatkan kehidupan ekonomi tanpa melakukan perambahan. (AM)

 

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
3,045PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles