spot_img

Ini Cerita Hajjah Syahrani, Muslimah yang Pernah Berjuang Untuk Vihara di Tanjung Balai

MENARAnews, Medan (Sumut) – Kerusuhan bernuansa SARA yang berujung pada pembakaran  Vihara di kota Tanjung Balai Asahan, Jumat (29/7/2016) lalu menjadi sorotan nasional. Pasalnya dalam satu malam enam rumah ibadah umat Buddha dirusak oleh massa.

Aksi massa diduga karena tersinggungnya sekelompok orang terhadap seorang warga bernama Meliana (41) yang protes terhadap kegiatan ibadah di masjid Almakshum yang berada di Jalan Karya, Tanjung Balai.

Selang beberapa waktu setelah aksi protes itu,  nazir masjid mendatangi rumah Meliana yang tak jauh dari masjid guna membicarakan protes warga. Namun, kelompok massa yang emosi kemudian hendak membakar rumah Meliana. Massa yang memanasa dan tak terbendung kemudian merusak dan membakar sejumlah Vihara di kota itu.

Hajjah Syahrani Harahap seorang tokoh masyarakat mengatakan pada tahun 2010 lalu sekelompok orang berusaha menurunkan patung Buddha yang berada di Vihara Tri Ratna, Tanjung Balai. Waktu itu dirinya bersama tokoh masyarakat lainnya seperti Anton Medan juga melakukan mediasi dengan kelompok yang ingin menurunkan patung tersebut membatalkan niatnya.

Sayangnya niat mulia yang dilakukan wanita berhijab ini tidak  mendapat respon pemerintah setempat. Akhirnya Hajjah Syahrani pun berinisiatif mendatangi kantor Kementerian Agama di Jakarta guna mendapat bantuan.

“Saat itu, kami mendirikan Aliansi Sumut Bersatu (ASB). Kita berjuang agar patung itu tidak diturunkan. Pejabat di Kementerian Agama juga heran, kenapa mau memperjuangkan yang bukan satu aliran dengan Saya. Lalu Menteri Agama memberikan jaminan rekomendasi keamanan terhadap patung tersebut. Konflik pun pada saat itu tidak terjadi lagi dan kondisi aman,” ucapnya.

“Mereka (pihak Vihara) minta bantuan ke Saya, kita sikapi. Pemerintah setempat tidak ada respon, padahal pada peletakan batu pertama pembangunan Vihara itu diikuti  pemerintah setempat. Awalnya harmonis, namun entah kenapa dua tahun kemudian ada kelompok yang ingin menurunkan patung tersebut,” sambung perempuan yang akrab disapa Bunda itu kepada MENARAnews, Sabtu (30/7/2016).

Bunda menjelaskan pada saat massa ingin menurunkan patung tersebut, dirinya bersama enam orang lainnya termasuk, Anton Medan sempat dikepung ratusan orang.

“Waktu itu kami ada tujuh orang dikepung ratusan orang. Alhamdullilah, akhirnya massa membatalkan menurunkan patung tersebut,” terangnya.

Menanggapi kerusuhan yang terjadi pada Jumat (29/7/2016) kemarin, menurutnya itu perselisihan individu yang harusnya tidak dibesarkan pihak tertentu.

“Itu aksi spontanitas, awalnya kan adu mulut saja. Suami dari orang yang protes ke masjid itu juga sudah minta maaf. Harusnya nazir masjid memaafkan wanita tersebut saja,” tutupnya. (Ded)

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
3,052PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles