spot_img

Pemerintah Diminta Stabilkan Harga Harga Karet

MENARAnews, Palangka Raya (Kalteng) – Sejumlah Anggota Dewan Pimpinan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kalteng meminta ketegasan kepada Pemerintah Daerah Provisi Kalimantan Tengah untuk membuat regulasi yang jelas guna mengatur harga komoditas produksi tanaman rakyat Kalteng.

Seperti yang disampaikan, H.M Fahrudin, saat ini harga karet yang merupakan andalan masyarakat Kalteng sedang dalam keadaan tidak stabil. Hal ini tentunya membuat makin terpuruknya perekonomian masyarakat.

“Kita berharap Pemerintah Daerah memberikan perlindungan bagi para petani khususnya petani karet, sehingga petani kita terhindar dari permainan para tengkulak,” ujar Fahrudin dikonformasi beberapa hari yang lalu.

Dia menyampaikan, harapan dari masyarakat kepada pemerintah untuk menstabilkan harga jual karet, murupakan usulan dari semua desa atau kelurahan dan kecamatan yang ada di Kabupaten Kotawaringin Timur dan Kabupaten Seruyan.

Berdasarkan hasil resesnya kemarin, Fahrudin menambahkan, daerah yang langsung merasakan dampak ketidakstabiln harga karet secara langsung adalah Desa Sungai Paring, Desa Asam Baru, Kecamatan Seruyan Hilir, Desa Sei Ijum Raya, dan Desa Bagendang Permai.

Tidak hanya itu, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Desa Cempaka Mulia Barat, Desa Bagendang Hulu, Desa Bagendang Tengah/Ramban, dan Desa Basirih Hilir juga mengalami dampak langsung akibat tidak stabilnya harga karet.

“Kita sangat berharap persoalan harga ini tidak berlarut-larut, kasian petani karet kita. Banyak masyarakat sangat tergantung dengan karet seperti memenuhi kebutuhan hidup serta memenuhi pendidikan anak-anaknya,” jelasnya kembali.

Harapan besar kepada Pemerintah Provinsi Kalteng agar bisa menyelesaikan permasalahan ketidakstabilan harga karet juga disampaikan oleh Ergan Tanjung, berdasarkan data yang diperolehnya, 90 persen warga masyarakat adalah petani karet.

“Akhir-akhir ini kondisi real, harga karet anjlok, sehingga warga yang ingin hidup mencoba dan berusaha untuk kerja yang lain seperti ikut menambang emas dengan mesin sedot. Namun mereka terkendala perijinan yang sulit didapat, sehingga mereka bekerja disebut sebagai PETI,” jelas Ergan.

Masyarakat pada umumunya, lanjutnya kembali, sangat senang jika menjadi petani karet, asal saja Pemerintah Daerah bisa mengembalikan dan menstabilkan harga jual karet kembali ke harga yang dulu yakni berkisar antara Rp.12.000 sampai Rp.13.000 per Kg.

Salah seorang warga Desa Luwuk Ranggan Kecamtan Cempaga Kabupaten Kotawaringin Timur Jamhari dikonformasi MENARAnews, Sabtu (18/06/2016) di kediamanya mengatakan, sampai dengan sekarang harga karet per Kg berkisar Rp.5000 sampai dengan Rp.5.300. Itupun dijual kepada tukang pengepul.

“Selama harga karet turun banyak petani karet yang beralih kerja sebagai buruh di perusahaan sawit, tapi masih ada juga sebagian memantan (menyadap.red) karet,” ujar Jamhari.

Di desa yang sama, Abdul Halim, yang sehari-harinya berprofesi sebagai petani karet, saat ini terpaksa harus bekerja ke perkebunan kelapa sawit untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.

“Kalau kita nyadap, dengan harga karet yang sekarang ini, ditambah dengan adanya musim penghujan. Tentu penghasilanya tidak akan mencukupi kebutuhan mas, makanya saya beralih kerja lain,” tutup Halim. (Arliandie)

Editor : Raudhatul N.

{loadposition media-right}

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
3,052PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles