spot_img

Karhutla, UNDP Libatkan Jurnalis

MENARAnews, Palangka Raya (Kalteng) – Untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kalimantan Tengah, United Nations Development Programme (UNDP) REDD+ melakukan sosialiasi kepada masyarakat terutama Jurnalis dalam bentuk workshop Jurnalis yang dilaksanakan selama 3 hari berturut-turut sejak tanggal 21-23 Juni 2016 di Hotel Luwansa Kota Palangka Raya.

Salah Satu Koordinator Program UNDP REDD+ Pusat bidang Kegiatan Media dan Komunikasi, Khairullah, menjelaskan, kegiatan tersebut bertujuan agar para jurnalis dalam langsung terlibat dalam pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan.

“Kalimantan Tengah salah satu provinsi yang memang cukup parah pada kejadian kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2015 lalu. Melalui kegiatan ini tentunya kita memberikan pemahaman dan wawasan terkait lingkungan hidup dan Karhutla,” jelas Khairulla diwawancarai kamis (23/06/2016) di Palangka Raya.

Pada workshop tersebut, UNDP juga memeberikan waktu untuk berbagi pengalaman terkait implementasi kegiatan REDD+ yang dilakukan di Kalteng, teturama melakukan kegiatan kunjungan langsung di lapangan apa saja kegiatan yang dilakukan REDD+ selama ini.

Desa Taruna Kecamatan Jabiren Raya Kabupaten Pulang Pisau, salah satu objek kegiatan REDD+ melalui mitra pelaksanaan seperti Lembaga Pendidikan dan Pengembangan Masyarakat (eLPaM) dan CO lainya seperti Lembaga Dayak Panarung di Kalteng.

“Kalau di desa Teruna ini ada beberapa kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat setempat, seperti pembuatan umbung atau tempat penampungan air, pemasangan sumur bor dan kegiatan pelatihan petani madu hutan yang merupakan bentuk dari pencegahan kebakaran hutan dan lahan,” jelasnya menambahkan.

Di sisi lain, salah satu Koordinator Proyek eLPam, Anang Juhaidi menjelaskan, bersama dengan UNDP REDD+, ada tiga kegiatan yang saat ini sudah dilakukan masyarakat, yang pertama kegiatan reabilitasi lahan gambut 10 Ha untuk satu desa, pembuatan 10 titik sumur bor di tiga desa yakni desa taruna, tumbang nusa dan Desa kameloh baru serta pembuatan umbung, juga penanaman pohon galam dan belangiran di lahan seluas 10 Ha.

“Selain itu kita juga memberikan pendampingan kepada masyarakat bagaimana cara memanen madu hutan secara lestari. 10 titik sumur bor ini disebar di beberapa titik-titik lahan milik masyarakat, sehingga ketika nanti terjadi kebakaran, masyarakat dapat lebih mudah memperoleh air untuk memadamkan sumber api,” jelas Anang.

Untuk pemasangan sumur bor sendiri, ujarnya berasal dari program yang dilakukan bersama UNDP dengan memberikan bantuan 5 mesin pompa air dimana pemasangan dilakukan sejak bulan maret 2016 kemarin, baik pembuatan umbung sebanyak dua titik, penananam Galam dan Blangiran pengelolaanya langsung oleh Masyarakat Peduli Api (MPA).

Dia menginformasikan, pemasang satu titik sumur bor lengkap dengan biaya pengerjaan serta alat mesin pompa berkuwalitas bagus, hanya memerlukan dana sekitar Rp.9,3 Juta rupiah. Dan untuk mengerjakan 30 titik sumur bor, dalam seharinya masyarakat bisa memasang 2 titik sumur bor di wilayah yang sudah ditentukan.

“Dalam kegiatan pembelajaran budidaya madu hutan oleh masyarakat secara tidak langsung meningkatkan kepedulian masyarakat untuk menjaga hutan, artinya apa, kalau hutanya terbakar, secara otomatis menurunkan produksi dan kwalitas madu hutan, dan ini tentunya akan mempengaruhi pendapatan dari masyarakat,” ujarnya menambahkan.

Begitu juga dengan penanaman galam dan blangiran, karena bibit galam dan belangiran yang ditanam sebanyak 12000 tersebut merupakan sumber makanan dari madu hutan, dan juga sumber pemasukan perekonomian masyarakat. eLPaM sendiri saat ini tengah melakukan upaya pemasaran dari hasil madu hutan.

Abdul Halim salah satu petani madu hutan di desa Taruna mengatakan, sebelumnya usaha sehari-hari sebagai nelayan atau pencari ikan, dengan adanya pelatihan budidaya madu hutan, dirinya merasa bertapa pentingnya menjaga hutan yang merupakan sumber pakan utama lebah hutan tidak terbakar.

“Sudah lama  sejak kita diberi pelatihan tentang budidaya madu hutan, dan saat ini saya lebih menggeluti profesi sebagai pemanen madu hutan,” tutupnya.(Arliandie)

Editor : Raudhatul N.

{loadposition media-right}

 

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
3,052PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles