spot_img

PLTU Sebabkan Tangkapan Nelayan Turun Drastis

MENARAnews, Medan (Sumut) – Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Langkat Tazruddin Hasibuan alias Sangkot membeberkan sejumlah fakta yang cukup mencengangkan terkait dampak Pembangkit Listrik Tenaga Uap yang berada di Langkat.

“Setidaknya ada lebih dari 50 ribu nelayan yang menjadi korban dari PLTU Batubara ini, tangkapan ikan kami menurun karena ekosistem laut menjadi rusak,” ujarnya, Kamis (14/4/2016).  

Akibat aktifitas bongkar muat batubara di Laut Langkat, pendangkalan laut terjadi. Sehingga jumlah ikan menjadi sedikit. Ini sangat mempengaruhi kehidupan tradisional. 

“Kalau terus-terusan begini, bagaimana lagi kami harus mencari ikan,” ujar sangkot. 

Sejak 2012, pendangkalan telah terjadi di wilayah tangkap nelayan tradisional Langkat. Pendangkalan tersebut disebabkan oleh pasir yang merupakan sisa dari bongkar muat batu bara. Sangkot mengatakan tempat pembuangan pasir yang dikelola oleh perusahaan batu bara dan PLTU tidak memiliki izin Amdal yang jelas. 

“Tahun 2012 terjadi pendangkalan, itu lokasi pembuangan pasir perusahaan batu bara dan PLTU, itu juga tidak jelas amdalnya,” ungkapnya. 

Puncak derita yang dirasakan oleh para nelayan tradisional adalah saat di tengah laut yang juga merupakan daerah tangkapan nelayan tradisional ikut mendangkal. 

“Akhirnya di tengah laut, kawan2 nelayan mendapati area tangkapnya mendangkal. Pindah ke sebelah, dan ternyata juga sudah digunakan untuk bongkar muat Batubara. Mohon kepada kawan2 aktivis lingkungan untuk membantu nelayan di sana menghindari maut ,” tandas Sangkot. (yug)

{adselite}

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
3,052PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles