spot_img

Ini Penyebab Batik Air dan TransNusa Tabrakan di Halim Perdanakusuma

MENARAnews, Jakarta – Dunia penerbangan Indonesia kembali mencatatkan rekor buruk. Kali ini insiden terjadi di Bandara Internasional Halim Perdana Kusuma, yaitu berupa tabrakan antara Pesawat Batik Air jenis Boeing 737-800 dengan nomor registrasi PK-LBS dan pesawat TransNusa dengan jenis ATR 42 seri 600. Peristiwa ini terjadi pada Senin (04/04/2016) malam, sekitar pukul 19.55 WIB.

Berdasarkan keterangan dari Dirjen Perhubungan Udara Suprastyo, tabrakan terjadi saat pesawat Batik Air sedang menuju ke landasan untuk take off dan pesawat ATR hendak towing menuju apron selatan Bandara Halim Perdanakusuma. Akibat tabrakan tersebut pesawat Boeing Batik ujung sayap kiri patah dan pesawat ATR seri 600 ujung sayap kiri dan ekor yang horizontal  juga mengalami kerusakan (patah), sedangkan pesawat ATR milik TransNusa mengalami kerusakan di bagian belakang pesawat, ekor pesawat hancur. Saat insiden tersebut, sayap pesawat Batik Air sempat terbakar.

Pesawat Batik dengan rute Jakarta – Makassar tersebut mengangkut 49 penumpang dengan rincian 48 dewasa dan satu anak, ditambah tujuh orang kru termasuk dua awak kokpit, sedangkan pesawat TransNusa sedang dalam keadaan kosong. Untungnya, insiden tersebut tidak memakan korban jiwa, seluruh penumpang dan kru pesawat dipastikan selamat, namun hanya mengalami shock.

Presiden Direktur Lion Air Edward Sirait mengatakan bahwa pesawat Batik Air saat itu sudah mendapatkan izin untuk melakukan take off atau lepas landas. “Saat itu, pesawat kami sudah diizinkan untuk take off, namun kami tidak ingin mendahului apapun,” ujar Edward dalam konfresi pers, Selasa (05/04/2016).

Sementara itu, Presiden Direktur PT TransNusa Air Services, Juvenile Jodjana mengatakan, pihak maskapai penerbangan TransNusa sudah melalui prosedur dalam upaya pemindahan pesawat ATR ke parkir selatan bandara. “Pesawat kami sudah selesai, saat itu sedang towing untuk pindah ke tempat parkir selatan,” kata Juvenile.

Namun demikian, pihak Batik Air dan TransNusa menyerahkan sepenuhnya insiden yang terjadi tadi malam kepada penyelidikan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Saat ini, pihak KNKT sedang melakukan upaya penyelidikan dengan meminta keterangan semua pihak terkait dan melakukan analisa black box kedua pesawat tersebut.

Berkaitan dengan insiden tersebut, Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi menduga adanya unsur keteledoran yang sangat serius. Ia pun mendesak agar KNKT segera melakukan pengusutan secara tuntas terhadap peristiwa itu.

Menurut Tulus, insiden itu merepresentasikan kurangnya koordinasi antara petugas Air Traffic Contro (ATC) dengan petugas darat yang sedang menarik pesawat Transnusa ke hanggar. Ia juga mengatakan bahwa kejadian ini adalah bukti yang menunjukkan keselamatan penerbangan di Indonesia masih rendah. Oleh karena itu, ia meminta Kementrian Perhubungan untuk memberikan sanksi berat kepada pihak terkait yang terbukti bersalah. (ADF)

{adselite}

 

 

 

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
3,050PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles