spot_img

Antisipasi LGBT, Waria Akan Dibina

MENARAnews, Palangka Raya (Kalteng) – Saat ini ramai diperbincangkan baik di dunia maya maupun di tengah masyarakat terkait munculnya fenomena Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT).

Menurut Kabid Rehabilitasi Sosial dan Pelayanan Sosial Dinas Sosial dan Tenaga Kerja  (Dinsosnaker) Palangka Raya, Hj Ruslianti, saat ini pihaknya belum mendeteksi adanya keberadaan kelompok LGBT tersebut, namun kalau untuk Waria (Wanita Pria) dikatakannya berjumlah sekitar 57 orang.

“Kami memperoleh data jumlah Waria ini dari ketua pengurusnya yang juga seorang waria tentunya,” ucap Ruslianti saat dikonfirmasi diruangannya, Kamis (3/3/2016).

Pihaknya juga rutin menyisir kawasan yang sering dijadikan tempat mangkal para Waria tersebut, salah satunya adalah sekitaran Lapangan Sanaman Mantikei. Hal itu dilakukan ungkapnya, karena keberadaan Waria tentunya berpotensi menimbulkan keresahan bagi masyarakat.

Bahkan tak jarang pula, melalui pengurusnya disampaikan untuk mengkoordinir anggotanya dengan baik supaya tidak keluyuran malam-malam. Jika kedapatan saat dilakukan razia, maka Waria-Waria itu jelas langsung dibawa ke tempat pembinaan untuk diberikan arahan.

“Sering mereka itu kami bina, karena memang tidak ada jera sama sekali, ditangkap, dibina, dipulangkan besok-besok masih saja keluyuran,” keluhnya.

Ungkapnya, untuk bentuk kegiatan keterampilan seperti apa yang diberikan kepada Waria selama pembinaan ini pun masih belum ada karena memang yang ada itu hanya bagi gepeng dan anak jalanan saja.

“Permintaan mereka itu terkadang aneh-aneh, dan tergolong susah untuk kami wujudkan sehingga sejauh ini hanya diberikan pengarahan saja. Kami mau beri mereka keterampilan terkait salon, mereka bilang sudah biasa,” tukasnya.

Dia juga mengimbau kepada masyarakat untuk lebih peduli dengan keberadaan para Waria tersebut, peduli dalam artian mencoba mendekati secara keagamaan serta memberikan teguran bahwa apa yang mereka lakukan keluyuran setiap malam merupakan suatu hal yang tidak bagus.

“Dekati secara morallah, bukan mendekati dalam artian lain. Ibarat batu kalau terus-terusan ditetesi air maka akan berlubang, begitu pula mereka (Waria) ini kalau kita nasehati terus maka mereka akan sadar,” imbuhnya.

Kepala Dinsosnaker, Akhmad Fauliansyah pun ikut angkat bicara menanggapi fenomena LGBT, ia menuturkan faktor keluarga terutama orangtua yang menjadi tonggak utama dalam memberikan pendidikkan dan pengawasan terhadap anak-anak mereka supaya tidak terjerumus dalam lingkaran kelompok seks menyimpang itu.

Orangtua pun harus memahami keperluan anak yang sesuai dengan jenis kelaminnya. Baik alat prmainan edukatifnya maupun teman-teman bermainnya.

“Kalau ada anak laki-laki suka bermain boneka ya cepat diambil, begitu pula sebaliknya. Karena itukan lama kelamaan bisa memicu ke arah LGBT, sehingga orangtua juga perlu memilih permainan si anak sesuai jenis kelaminnya,” paparnya. (Agus Fataroni)

Editor : Raudhatul N.

{adselite}

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
3,039PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles