Ricuh Pembongkaran Rumah Warga Bantaran Rel Mandala By Pass

MENARAnews, Medan (Sumut) – suasana mencekam tampak di kawasan pinggir rel Jalan Mandala By Pas, Lingkungan VIII, Medan Denai. Warga mengadang buldoser yang hendak menggusur bangunan rumahnya, Kamis (21/1/16).

Terdengar kabar seorang operator buldoser terluka akibat lemparan batu. Kaca buldoser pecah, kuncinya pun hilang entah kemana. Tak hanya itu, warga juga menutup jalan sehingga menyebabkan arus lalin macet. 

Penggusuran dilakukan terkait rencana PT KAI untuk membangun double track. Sehingga dibutuhkan lahan yang lebih luas untuk pembangunan tiang-tiang pancang jalur layang kereta api. Hal ini menyebabkan warga yang berada di pinggir rel terkena imbas. 

Selama ini warga tinggal di lahan milik PT KAI. Mereka sudah tinggal dan membangun pemukiman selama puluhan tahun. Namun pada saat penggusuran terjadi insiden sehingga membuat suasana semakin gaduh. Batas waktu pemindahan yang diberikan PT KAI hingga tanggal 22 Januari 2016. Namun ada warga yang menolak karena sudah dilakukan rapat dengan DPRD Kota Medan yang memutuskan batas waktu pemindahan itu sampai tanggal 25 Januari. 

Anggota Komisi C DPRD Kota Medan Boydo H Panjaitan mengatakan, semua warga setuju untuk dilakukan pembongkaran. Sebelumnya telah dilakukan rapat dan hasilnya, hingga tanggal 22 Januari tidak ada kegiatan pembongkaran apapun. 

“Jadi hingga tanggal 22 Januari tidak ada kegiatatan apaapun, jadi lahan itu dibiarkan stanpas begitu saja sampai ada keputusan di rapat tanggal 25 Januari, ini berdasarkan hasil resume rapat dan disetujui oleh PT KAI,” katanya saat melakukan pertemuan dengan Kapolresta, personel TNI, dan warga di sebuah warung tak jauh dari pemukiman yang akan dibongkar. 

Pada rapat yang digelar DPRD Kota Medan, PT KAI dan warga Jalan Mandala, masyarakat setuju rumahnya dibongkar. Boydo meminta kepada petugas untuk menunda pembongkaran hingga ada keputusan yang keluar di tanggal 25 Januari. 

“Atas nama rakyat kami mohonkan agar dimengerti lah keadaan ini,” katanya. 

Tak sedikit warga yang kesal akibat pembongkaran ini. Mereka menganggap PT KAI telah mengangkangi hasil rapat sebelumnya yang memutuskan mereka akan pindah setelah ada RDP lagi dengan DPRD Kota Medan. 

Warga juga menilai, uang ganti rugi sebesar 1,5 Juta yang diberikan PT KAI kepada mereka tidak cukup untuk melakukan pembongkaran. 

“Makan ajah uang satu stengah itu, gak cukup itu sama kami, ini namanya penghinaan,” cecar seorang warga sembari menunjuk nunjuk anggota TNI yang ada di lokasi. 

Melihat ini Anggota TNI bernama Nadeak ini pun hanya memandangi warga tersebut. Hingga kini, warga yang tinggal dibantaran rel sudah mulai membongkar rumah dan memindahkan barang-barangnya. Namun tak sedikit yang tidak tahu akan tinggal dimana setelah rumah mereka dibongkar.

Petugas sabhara bersenjata lengkap juga tampak berjaga di lokasi. Kapolsek Medan Area Kompol Tengku Rizal Moelana mengatakan, pihaknya menurunkan satu pleton personil untuk melakukan pengamanan. 

“Untuk sementara kita turunkan satu pleton petugas Dit Sabhara untuk pengamanan lokasi,” pungkasnya. (yug)

{adselite}

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
3,036PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles