spot_img

Kronologi Meninggalnya Wanita Cantik Setelah Menjalani Terapi Chiropractic

MENARAnews, Jakarta – Masyarakat Indonesia kembali dihebohkan dengan pengobatan alternatif yang mengakibatkan pasiennya meninggal dunia setelah menjalani terapi.

Kisah memilukan ini menimpa seorang wanita cantik yang bernama Allya Siska Nadya. Wanita muda kelahiran Bandung, 28 Desember 1982, yang akrab disapa Siska ini meninggal dunia setelah menjalani terapi Chiropractic Klinik First Chiropractic di Pondok Indah Mall, Jakarta Selatan.

Namun bagaimanakah awal mulanya Siska berkenalan dengan terapi yang berujung pada kematiannya tersebut? Berikut ini kisahnya

Kejadian ini bermula pada pertengahan tahun 2015, yaitu tepatnya pada awal Agustus 2015. Wakil Direktur Komunikasi PT PLN, Alfian Helmy Hasyim yang juga merupakan orang tua dari Siska menceritakan bahwa pada awalnya Siska mengeluh, dirinya merasakan nyeri pada leher dan tulang belakang. Alfian menduga bahwa hal itu kemungkinan disebabkan Siska terlalu sering menenteng bawaan berat, yaitu tas berisi laptop. Kondisi ini membuat Siska sempat menjalani fisioterapi atau sekedar pijat biasa.

Setelah menjalani fisioterapi dan pijat, keluhan yang dirasakan Siska ini sembuh, ia pun akhirnya kembali melanjutkan kerja seperti biasa. Namun, tak butuh waktu lama, nyeri pada bagian tulang belakang itu kembali muncul.

Keluhan yang kembali muncul ini membuat Siska mencari pengobatan yang efektif untuk menyembuhkan rasa sakit tersebut. Hal ini dikarenakan, Siska berencana pergi ke Perancis pada 18 Agustus 2015 untuk melanjutkan studi S2-nya. Alfian mengungkapkan bahwa Siska ingin segera sembuh sebelum berangkat ke Perancis.

“Siska sempat curhat ke mamanya, ia ingin kalau sudah di sana (Perancis), keluhannya sudah sembuh. Jadi dia mau menjalani pengobatan dulu di Jakarta agar bisa fokus belajar nanti,” ungkap Alfian.

Upaya Siska untuk mengobati penyakitnya ini akhirnya membuahkan hasil. Pada 5 Agustus 2015, Siska memutuskan untuk menjalani pengobatan di Klinik First Chiropractic di Pondok Indah Mall, Jakarta Selatan.

Sebelum menjalani terapi tersebut, Siska mendapatkan konsultasi terlebih dahulu dari terapis asing yang bernama Randall Caferty. Dalam konsultasi itu, Randall menyebutkan, Siska harus menjalani terapi sebanyak 40 kali dengan harga Rp 17 juta. Namun, Siska tidak mau karena dia harus berangkat ke Perancis pada 18 Agustus 2015. Menyikapi hal ini, Randall kemudian menawarkan paket yang seharusnya dilakukan sebanyak 40 kali menjadi dua kali sehari.

Penawaran Randall ini disetujui Siska, karena ia menganggap Randall adalah dokter yang ahli. Pada 6 Agustus 2015, Siska kembali ke klinik tersebut untuk menjalani terapi pada pukul 13. 00 WIB dengan membawa uang sebanyak Rp 17 juta untuk membayar terapi tersebut. Pada sore harinya, Siska bersama ibunya kembali ke klinik tersebut untuk menjalani terapi yang kedua.

Alfian mengatakan, terapi itu ditangani langsung oleh Randall. Ibu Siska yang juga berada di ruang terapi itu sempat kaget melihat bagaimana proses terapi dilakukan denga waktu yang sangat singkat.

“Waktu itu mamanya terkejut melihat prosesnya. Posisi Siska tengkurap, kemudian datang si Randall dan memutar kepalanya ke kiri dan ke kanan, bunyi kretek-kretek. Kemudian pinggulnya juga diputar ke kiri dan ke kanan. Prosesnya hanya sekitar lima menit saja,” ungkap Alfian

Setelah menjalani terapi tersebut, Alfian melihat ada sedikit perubahan pada Siska.

“Enggak seperti biasanya, Siska tiba-tiba diam, seperti ada sesuatu. Siska itu anaknya berkarakter kuat, jika masih bisa ditahan, dia akan tahan. Dia enggan untuk ngerepotin orang,” tambah Alfian.

Namun rasa sakit yang tak tertahankan akhirnya membuat Siska menyerah. Sekitar pukul 23.00 WIB, Siska merasakan sakit yang luar biasa pada bagian lehernya. Alfian mengaku bahwa ia baru kali ini melihat putrinya mengalami hal tersebut. Melihat hal ini, Alfian akhirnya memutuskan untuk segera membawa Siska ke unit gawat darut di RSPI pada tengah malam itu.

Alfian mengatakan, menurut catatan medis tim dokter di RSPI, bagian leher hingga lengan Siska dinyatakan mengalami kesemutan dan bagian belakang lehernya membengkak. Dokter menduga pembuluh darah di bagian leher Siska pecah.

Untuk membuktikan hal itu, Dokter berupaya untuk melakukan MRI, namun sayangnya, Siska sempat kehilangan kesadaran dan denyut jantungnya melemah. Kondisi yang tidak stabil ini membuat MRI batal dilakukan.

Maut akhirnya menjemput Siska. Pada 7 Agustus 2015, pukul 06.00 WIB, Siska menghembuskan nafas terakhirnya.

Meninggalnya Siska ini membuat keluarga sangat terpukul, Alfian dan istrinya sangat tidak menyangka putri bungsunya meninggal karena hanya masalah tulang belakang.  Menyikapi hal ini, Alfian tak tinggal diam, ia akhirnya melaporkan kasus dugaan malapraktik oleh dokter asing pada 12 Agustus 2015.

Polisi telah melakukan investigasi kasus tersebut dengan memanggil Randall untuk dimintai keterangan, namun dirinya tidak memenuhi panggilan tersebut dan diketahui telah kembali ke negara asalnya, Amerika Serikat. Polisi menduga bahwa Randall tidak memiliki izin praktik di klinik tersebut. (ADF)

{adselite}

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
3,041PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles