spot_img

Kerjasama Dayak Misik Mulai Direalisasikan

MENARAnews, Palangka Raya (Kalteng) – Kerjasama antara Kelompok tani yang tergabung dalam Dayak Misik dengan s Soetomo Margonoto pemilik PT Santos Jaya Abadi sekaligus pemilik perusahaan Kopi Kapal Api Indonesia kini sudah mulai terealisasi.

Seperti yang dikatakan oleh Kelompok tani Ujung Pandaran Alfian bahwa saat ini kerjasama tersebut suda dimulai, sejak bulan desember lalu pihaknya sudah melakukan percobaan pertama dengan menanam jagung.

“Luas tanah sebanyak 5 Ha sudah kami tanami tanaman jagung sebagai percobaan awal untuk mengetahui tanaman apa yang cocok nantinya, untuk pengelolaan tanaman percobaan dilakukan oleh pengurus,” ucap alfian saat dihubungi MENARAnews melalui seluler, Minggu (10/1).

Lanjutnya, sampai saat ini memang belum ada proses penandatanganan MoU dengan pihak perusahaan namun proses kerjasama sudah sampai tahap percobaan.

“Sampai saat ini juga kami masih terus mengejar penandatanganan, namun daerah lain juga sampai saat ini masih melakukan proses percobaan semua, kita tunggu saja sampai proses percobaan selesai,” harapnya.

Imbuhnya, warga Ujung Pandaran masih menunggu dan diharapkan proses kerjasama segera mendapat realisasi sehingga masyrakat bisa secepatnya mengelola tanah tersebut.

Sementara itu, Ketua forum Koordinasi Kelompok tani dayak misik Kalteng DR Siun Jarias membenarkan bahwa prosees kerjasama sudah terealisasi, kabarnya saat ini sedang melakukan percobaan terhadap tanaman yang dibudidayakan nantinya.

“Proses percobaan sudah dimulai di desa Ujung Pandaran, sementara untuk penandatangan dilakukan setelah proses percobaan selesai,” ucapnya saat ditemui diruangannya, Jumat (8/1/2015).

Imbuhnya, Tanah yang dimiliki oleh masyarakat dayak asli yang tergabung dalam Dayak Misik tidak bisa diperjualbelikan, namun apabila dilakukan kerjasama dengan sistem bagi hasil dan semacamnya silahkan.

“Bila tanah dayak misik tersebut dijual atau dipindahtangankan dengan sisem ganti rugi dan semacamnya, saya sebagai kelompok tani tidak ikut campur, sebab tanah adat hanya bisa dilakukan kerjasama bukan diperjualbelikan,” jelasnya.(Agus Fataroni)

Editor : Raudhatul N.

{adselite}

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
3,042PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles