spot_img

Apa Kata Mahasiswa Tantangan Rektor USU yang Baru

MENARAnews, Medan (Sumut) –  Pasca terpilihnya Rektor USU yang baru melalui sistem pemilihan pada Kamis lalu (21/1) di Jakarta oleh Majelis Wali Amanat (MWA) USU banyak tantangan yang harus dihadapi oleh Prof Dr Runtung Sitepu SH MHum dalam membenahi kampus terbesar di Pulau Sumatera ini.

Kampus yang diresmikan oleh Presiden Soekarno pada 20 November lima puluh delapan tahun silam ini mengalami pasang surut selama perjalanannya sebagai kampus ketujuh berdiri di Indonesia.

Saat ini USU mengalami beberapa stagnan bahkan kemunduran terutama dalam hal penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Hal itu bisa ditunjukkan dengan akreditasi universitas masih B sementara sudah menyandang status PTN-BH (Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum) yang notabenenya harus berakreditasi A.

Michael Sinaga, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis saat ditanyai (24/1) mengatakan banyak tantangan yang harus dihadapi dan diselesaikan oleh rektor baru dalam pencapaian program kerjanya. Ia berpendapat bahwa eksistensi USU di tanah air mengalami penurunan akibat konflik internal yang tercium masyarakat terutama pasca habisnya masa jabatan rektor sebelumnya, Prof Dr dr Syahril Pasaribu.

Selain itu birokrasi kampus yang korup dan ribet terkesan mempersulit mahasiswa menjadi penghambat selama ini. Aroma nepotisme yang sangat pekat juga Ia rasakan jika melihat pejabat yang menempati struktural kampus baik dari tingkat program studi hingga rektorat.

Menyoal USU masih menjadi kampus lima besar paling diminati dalam skala nasional, Ia berkomentar bahwa biasanya USU diminati pada pilihan kedua atau ketiga pada ujian SBM (Seleksi Bersama Masuk) PTN. Belajar dari pengalamannya dan orang-orang yang Ia jumpai, kampus di Pulau Jawa seperti UI, UNDIP, ITB, UNPAD, ITS masih menjadi prioritas dibanding USU.

Berbicara fasilitas, untuk ukuran USU masih merasa miris ketika dirinya menjumpai beberapa kampus yang minim fasilitas mengingat besarnya daya tampung USU setiap tahunnya tidak sebanding dengan yang didapatkan oleh mahasiswa.

Hal yang sama diucapkan oleh Soezono mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik bahwa rektor yang baru harus lebih agresif dalam menyelesaikan masalah yang menumpuk. Soezono mengambil kasus kemanan kampus yang belakangan ini dinilai tidak sehat, pasalnya banyak kendaraan mahasiswa yang hilang dari parkiran dan menyebabkan keresahan serta ketakutan.

Soezono juga mengharapkan agar rektor yang baru mau melibatkan mahasiwa dalam pembuatan kebijakan sebagi tanda bahwa USU kampus yang demokratis dan memperhatikan mahasiswanya sebagai bagian dari civitas.

Selain itu, kekeliruan yang Ia anggap adalah masuknya dana hibah tanpa memperhatikan latarbelakang atau profil dari institusi maupun perorangan yang menyumbang sedang atau pernah melakukan pelanggaran hukum. Ia sangat berharap rektor baru harus jeli melihat kondisi itu agar USU tidak mendapat beban moral dan menjadi tidak independen.

Banyak hal sebenarnya yang harus diperbaiki dan dibutukan seorang sosok tegas, cermat dan bijak. Singkatnya Soezono melihat ada harapan pada rektor baru untuk USU yang lebih baik dan mampu merevitalisasi USU seperti yang disampaikan oleh Prof Runtung Sitepu saat pemaparan progja menuju kampus yang kalanya bonafit menghasilkan alumnus berprestasi dan diperhitungkan secara nasional maupun internasional. (ded)

{adselite}

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
3,043PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles