spot_img

Wisuda PJKR Universitas Palangka Raya Masih Tunggu Keputusan

MENARAnews, Palangka Raya (Kalteng) – Mahasiswa Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi (PJKR) Universitas Palangka Raya (UPR) yang meminta kejelasan terkait kapan yudisium dan wisuda nampaknya akan menemukan titik terang. Pasalnya, besok hari ini pihak pengelola yakni Ketua Program Sarjana Kependidikkan Bagi Guru Dalam Jabatan (PSKGJ) FKIP UPR Drs. Arnusianto M. Mage MA Ph.D bertolak ke Jakarta untuk menghadap Dirjen Kemenristek Dikti.

“Saya besok (hari ini, red) dipanggil ke Jakarta menghadap Dirjen membahas masalah wisuda 187 mahasiswa PJKR percepatan ini, dan untuk lebih jelasnya silahkan menghubungi bapak Dekan FKIP UPR,” ujarnya singkat, Sabtu (19/12/2015).

Ditemui di ruang kerjanya, Dekan FKIP UPR Prof. Dr. Bambang TK Garang MP.d membenarkan hal tersebut. Dikatakannya, keberangkatan Ketua PSKGJ ke Jakarta sekaligus meminta surat tertulis dari Dirjen mengengai tindakan selanjutnya terhadap 187 mahasiswa PJKR itu.

Ditambahkannya, selama menunggu yudisium dan wisuda mahasiswa jurusan lain di PSKGJ juga ditunda sementara. Apabila opsi pertama yang diberikan pihak Dirjen, maka yudisium dan wisuda akan serentak dilakukan. Tetapi jika opsi kedua yakni mahasiswa PJKR harus menempuh jalur reguler, mau tidak mau jurusan lain tetap akan diwisuda terlebih dahulu.

“Perlu diketahui, sebenarnya kami sudah dua kali ke Jakarta mengurus masalah ini, dan keberangkatan pak Arnus kali ini adalah untuk meminta kepastian. Jadi keputusannya nanti seperti apa ya mesti menunggu kedatangan beliau dari Jakarta dulu,” ungkapnya.

Diakui Bambang, dalam peraturan terdahulu terkait program PSKGJ bagi mahasiswa PJKR sudah dijelaskan kalau mereka tidak bisa masuk. Mereka bahkan sampai datang ke UPR memohon agar bisa ikut penyetaraan.

Apabila keputusannya nanti 187 mahasiswa jurusan PJKR itu harus masuk reguler, maka pihak universitas pun akan mempertimbangkan atau memberi dispensasi kepada mereka selama tidak bertentangan dengan kebijakan.

“Malah lebih baik kalau mereka masuk jalur reguler, terutama bagi guru yang honorer. Karena jika menggunakan ijazah reguler itu dia bisa mendaftar CPNS sementara ijazah keluaran PSKGJ tidak bisa. Itu keuntungannya,” imbuhnya.

Progam PSKGJ merupakan program khusus. mahasiswa jalur ini tidak bisa disamakan dengan reguler biasanya, karena mereka mempunyai kewajiban lain seperti mengajar.

“Tidak harus setiap hari turun, kami memang sengaja tidak menyampaikan itu karena masih menunggu keputusan resmi Dirjen, nanti kalau kami salah ngomong susah lagi urusannya. Hanya saja mereka ini kurang bersabar,” beber Bambang.

Alasan kenapa ijazah program PSKGJ tidak bias digunakan untuk mengikuti tes CPNS ungkapnya, dikarenakan ijazah itu hanya sebagai mekanisme penyetaraan gelar S-1 saja bagi guru yang belum mendapat S-1. Sesuai perjanjian yang telah ditandatangani mahasiswa PSKGJ sebelum saat masuk kuliah tidak boleh dijadikan pegawai negeri non guru.

“Jelas pernyataan itu mereka buat dan aturannya memang seperti itu. makanya diberi nama program PSKGJ artinya hanya untuk guru “dalam jabatan” yaitu hanya diperbolehkan bagi guru saja baik PNS maupun honorer,” jelasnya.

Untuk tahun selanjutnya tambah Bambang, program PSKGJ bisa berjalan apabila ada permintaan dari bupati masing-masing kabupaten untuk memasukan guru dalam program tersebut.

“Setelah adanya permintaan itu, selanjutnya kami sampaikan pada Raktor dan rektor yang meneruskan ke Dirjen. Kalau Dirjen bilang ‘oke’ maka guru yang mau masuk segera kami proses,” pungkasnya.

Terpisah, salah satu mahasiswa jurusan PJKR Percepatan yakni Sepmesie memperlihatkan rincian biaya yang ia keluarkan selama 4 semester mengikuti program PSKGJ FKIP UPR.

“Itu pun ada beberapa yang tidak ada kuitansinya, hanya ditulis oleh mereka pengelola dibuku administrasi saja,” ucapnya.

Untuk biaya masing-masing mahasiswa diakuinya berbeda, terutama untuk biaya pembuatan skripsi dan juga untuk ujiannya serta perbaikan nilai.

“Saya sendiri biaya pembuatan skripsi Rp 7 juta, ada pula teman lain yang bayar Rp 5 juta. Tergantung sama siapa dia membuat serta siapa pengujinya, begitu pula untuk perbaikan nilai. Semakin banyak nilai diperbaiki, banyak juga bayarnya,” urai Sepmesie. (Agus Fataroni)

Editor : Raudhatul N.

 

RINCIAN BIAYA PERCEPATAN S-1 PROGRAM PSKGJ JURUSAN PJKR 2014/2015

SEMESTER I (satu) sampai SEMESTER V

No

JENIS PENGELUARAN

JUMLAH Rp

1

Memeriksa fortofolio

Rp 350.000

2

Menebus modul @ Rp 300.000 x 2 modul

Rp 600.000

3

SPP 4 semester @ Rp 3.500.000 x 4 semester

Rp 14.000.000

4

Pendaftaran Ujian Skripsi

Rp 350.000

5

Pendaftaran Yudisium

Rp. 1.200.000

6

Pendaftaran wisuda

Rp 1.150.000

JUMLAH             

Rp 17.650.000

 

 

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
3,052PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles