spot_img

Penyakit yang Membunuh Bayi Diduga Akhirnya Diketahui

MENARAnews, Jayapura(Papua) – Teka-teki penyakit yang membunuh sejumlah bayi di Kabupaten Nduga, Distrik Mbua yang sempat menggerkan masyarakat Papua akhirnya diketahui.

Sebelumnya dari hasil dari penelitian Menteri Kesehatan Republik Indonesia melalui sampel darah disebutkan ada berbagai faktor, satu diantaranya lingkungan yang disebabkan oleh panas sehingga menimbulkan gejala demam.

Belakangan diketahui penyakit yang sudah merenggut sebagian nyawa bayi di daerah tersebut adalah penyakit pertusis yakni sebuah jenis bakteri pada paru-paru yang diawali gejala Infeksi Saluran Pernafasan (ISPA). Selain itu juga diindikasi adanya makanan instan seperti mie kadaluawarsa dan ayam yang sudah tidak layak dikonsumsi.

Guna mencegah agar tidak ada lagi korban, Pemprov Papua sudah bentuk tim untuk pemulihan.Tim ini melibatkan Menkes RI, SKPD setempat guna mengatasi kasus di Nduga, kata Aloysius Giyai, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua

“SK sudah disiapkan Gubernur Papua, Lukas Enembe melalui sidang di DPRP Papua,” di Rumah Makan Bambu Kuning, Ruko Dok 2, Jalan Pasifik Permai, Kota Jayapura, Selasa (22/12).

Pertama, lanjut Aloysius tim kesehatan hal utama, pasalnya diindikasi bukan hanya Distrik Mbua tapi juga di seluruh kawasan tengah Kabupaten Nduga. Tim kesehatan ini bakal melakukan layanan seperti pengobatan massal dan imunisasi serta pembuatan jamban. Terutama daerah yang dinyatakan kawasan merah di Pegunungan Tengah yakni Puncak Jaya, Deiyai, Pegunungan Bintang, serta di bagian pesisir pantai Waropen.

“Ini fakta, masalah kesehatan bukan semakin berkurang tapi semakin menambah,” akunya.

Kendati demikian, Dinkes Provinsi Papua minta perlu adanya keterbukaan masyarakat setempat, dinas kesehatan dan bupati untuk turut ikut campur tangan menagani kesehatan di Kabupaten Nduga.

“Kedepannya, kami akan berusaha sesuai dengan standar profesi kami sebagai petugas kesehatan demi hajat hidup orang banyak terutama di Provinsi Papua,” optimisnya.

“Kami akan mulai minggu depan, kami sudah turun dengan respon cepat sampai bulan Maret 2016, setelah itu kami mantenance. Pendekatan untuk Papua berbeda dengan daerah lain. Satu atau dua itu nyawa itu juga manusia, bukan banyak dan sedikit,” tambahnya.(Surya)

{adselite}

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
3,043PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles