spot_img

Mitos dan Fakta Seputar HIV/AIDS

MENARAnews, Kesehatan – Lebih dari 30 tahun lalu masyarakat mengenal penyakit HIV/AIDS, namun sebagian besar dari mereka masih belum begitu memahami seluk beluk penyakit ini.

Selama ini sebagian besar masyakarat beranggapan negatif terkait penyakit HIV/AIDS, mulai dari penyakit yang berasal dari kutukan, penyakit mematikan, akibat perbuatan moral, atau virusnya mudah menular lewat sentuhan, dan anggapan-anggapan negatif lainnya, padahal fakta yang sebenarnya tidak seperti itu.

Berikut ini beberapa fakta dan mitos seputar penyakit HIV/AIDS.

Fakta HIV/AIDS

  1. WHO menyebutkan bahwa hingga akhir tahun 2014, 36,9 juta dari 7 milyar penduduk dunia, terinfeksi virus HIV/AIDS. 2,6 juta diantaranya adalah anak-anak. Sejak virus ini ditemukan pada tahun 1981, virus ini menelan korban jiwa sebanyak 35 juta orang.
  2. Virus HIV/AIDS memiliki sifat yang progresif dalam menyerang sistem kekebalan tubuh penderita, sehingga membuat tubuh rentan terhadap serangan penyakit
  3. HIV tidak sama dengan AIDS. HIV dikatakan AIDS apabila sistem kekebalan tubuh penderita sudah berada dibawah normal. Namun demikian, jika mendapat pengobata yang tepat, HIV tidak akan berkembang menjadi AIDS. Penderita dikatakan mengidap AIDS ketika tubuh mendapat lebih 20 infeksi penyakit tertentu atau sel CD4 kurang dari 200
  4. Masih banyak orang yang melakukan perbuatan beresiko tertular HIV/AIDS belum mengetahui status HIV mereka. Hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor. Di Indonesia, faktor sosial sangat berpengaruh terhadap status HIV seseorang. Stigma negatif terhadap penyakit ini, membuat orang dengan prilaku beresiko enggan mengetahui status HIV mereka. Studi ilmiah menyebutkan hanya 51 persen orang yang mengetahui status HIV mereka
  5. Terinfeksi HIV/AIDS bukanlah akhir dari segalanya, dengan terapi ART (Anti Retroviral), ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) dapat hidup lebih lama dan lebih sehat seperti sebelum terinfeksi HIV. Apabila pasangan positif HIV menjalani secara tepat terapi ART, penularan virus HIV kepada bisa turun drastis sebanyank 96%.
  6. Penularan HIV/AIDS terjadi melalui antara lain, melakukan seks bebas yang tidak aman, transfusi darah yang terkontaminasi virus HIV/AIDS, berbagi jarum suntuk dengan orang yang terinfeksi HIV/AIDS, penularan ibu terhadap bayinya saat hamil, melahirkan dan menyusui (kondisi ini bisa dicegah dengan terapi ART)
  7. Pencegahan HIV/AIDS bisa dilakukan dengan cara antara lain, setia kepada pasangan yang sah, gunakan kondom saat melakukan hubungan seksual beresiko, menjalani tes dan pengobatan untuk infeksi menular seksual dan HIV, pastikan tidak berbagi jarum suntik dan hanya sekali pakai, pada saat menjalani transfusi darah pastikan darah yang diteriima telah mendapat screening HIV.

Mitos HIV/AIDS

  1. Virus HIV/AIDS bisa menular jika berada di sekitar orang yang terinfeksi HIV/AIDS. Itu hanya mitos besar, padahal sebenarnya, virus HIV/AIDS tidak bisa menular melalui sentuhan, air mata, keringat, atau air liur. HIV tidak bisa ditularkan melalui udara, berbagi peralatan makan, menggunakan peralatan di gym, dan berpelukan atau berciuman dengan orang yang mengidap HIV
  2. Nyamuk bisa menularkan HIV/AIDS. Ini mitos yang sangat tidak benar. HIV tidak bisa ditularkan melalui gigitan serangga yang telah menggigit seorang penderita HIV. Selain itu virus HIV/AIDS tidak bisa bertahan lama di dalam tubuh serangga.
  3. Dunia berakhir ketika terinfeksi HIV. Pada zaman sekarang, pernyataan tersebut hanyalah mitos. Hal ini dikarenakan perkembangan dunia kedokteran yang canggih dan adanya terapi ART, penyakit HIV/AIDS dapat diibaratkan seperti sedang menderita flu biasa.
  4. Mudah untuk mengetahui seseorang terinfeksi HIV/AIDS. Ini hanyalah mitos, kenyataannya butuh waktu bagi virus HIV (bertahun-tahun) untuk memuat seseorang memiliki infeksi oportunistik, sehingga sulit jika dilihat secara kasat mata. Hanya tes HIV yang bisa menentukan apakah seseorang tersebut terinfeksi HIV/AIDS.
  5. Seks oral tidak bisa menularkan HIV. Menurut para ahli, kemungkinan terinfeksi HIV/AIDS dengan seks oral memang kecil, namun potensi terpapar virus masih ada. Oleh karena itu, tetap lakukan seks secara aman.

(ADF)

{adselite}

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
3,052PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles