Dukung Konferensi Lingkungan Di Paris, Ratusan Aktivis Lingkungan Gelar Aksi Solidaritas

 

MENARAnews, Medan (Sumut) – Aliansi Bumi Rumah Kita menggelar aksi damai, di Tugu Nol Kota Medan, Sabtu (5/12). Ratusan massa yang berasal dari organisasi yang concern pada isu lingkungan membentangkan puluhan poster terkait permasalahan ekosistem.

Perwakilan dari Elsaka, Josua Ryan Martin mengatakan aksi solidaritas ini dalam rangka kampanye terhadap hasil pertemuan United Nation Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) yang sedang berlangsung di Paris.

“Agar masyarakat bisa tahu, kesepakatan yang ada disana, hasil dari COP nanti adalah kesepakatan yang mengikat,” ujarnya.

Nantinya, ungkap Josua, kesepakatan yang dilakukan oleh negara Anggota UNFCCC bisa menerapkannya di Indonesia. “Kita ingin kesepakatan disana (Paris) bisa diterapkan untuk penyelesaian masalah lingkungan di Indonesia,” ujarnya.

Conference Of Parties (COP) ke 21, menjadi sangat relevan ditengah kencangnya laju krisis bumi yang sedang berlangsung saat ini. Beberapa krisis lingkungan aktual yang secara langsung mempunyai sumbangsih terhadap terjadinya krisis bumi. Pembakaran hutan besar-besaran dan berkelanjutan di Indonesia menjadi penyebab bencana banjir yang terjadi di Indonesia.

Untuk Sumatra Utara, berbagai krisis lingkungan jiga terjadi. Perambahan hutan yang dilakukan oleh korporasi besar semakin menambah daftar panjang kerusakan lingkungan. Beberapa perusahaan besar dari amatan para aktivis lingkungan di Sumut antara lain, PT. Toba Pulp Lestari, PT. DPM, PT. Agincourt Resources, PT. Sorik Mas Mining, dan masih banyak lagi korporasi besar di Sumut khususnya.

Joshua menuturkan, pihaknya terus berupaya untuk memberikan tekanan terhadap perusahaan agar menghentikan aktivitas yang dapat merusak lingkungan. “Kami ingin perusahaan – perusahaan tersebut dicabut izinnya, dan mereka harus diproses secara hukum untuk mempertanggung jawabkan apa yang telah dilakukan terhadap lingkungan,” katanya.

Senada dengan Josua, Doni Latuparisa yang aktif di Walhi mengatakan,  pihaknya masih tetap akan menyuarakan isu-isu lingkungan yang ada di Sumatra Utara khususnya. Bagi mereka saat ini Sumut sedang menghadapi krisis lingkungan. “Hutan-hutan di Danau Toba di tebangi, dan dampaknya cukup besar untuk lingkungan,” ujarnya.

Belum lagi, kata Doni, perusahaan tambang yang ada di Sorik Marapi yang mengakibatkan kerusakan ekosistem. “Ini yang membuat ekosistem disekitarnya menjadi terganggu,” katanya.

Kaitannya dengan COP 21 di Paris, bagi mereka ini adalah langkah untuk mengangkat isu yang ada di Sumut agar menjadi isu internasional. “Supaya delegasi dari Indonesia yang berangkat kesana juga tau apa isu lingkungan yang berkembang di Sumut,” ujarnya.

Aksi berlangsung di tiga titik berbeda antara lain Simpang Pos, Bundaran SIB dan Tugu Titik Nol Kota Medan. (yug)

{adselite}

Comments
Loading...