Setelah Paris, Kini Teror Mengancam Kota New York

MENARAnews, New York – Kota New York dibuat geger dengan beredarnya sebuah video baru dari kelompok radikal ISIS berisi peringatan tentang serangan akan terjadi di New York City yang dirilis Rabu (18/11).

Video tersebut menyebutkan Times Square dan menunjukkan sebuah perangkat bahan peledak sedang disatukan dan seorang pengebom menarik risleting jaketnya yang di dalamnya ada sabuk bom bunuh diri.

Departemen Kepolisian Kota New York (NYPD) mengatakan pihaknya telah mengetahui perihal video tersebut dan sedang mengerahkan anggota tambahan dari skuad anti-terorismenya yang baru.

“Walau beberapa bagian rekaman video itu tidak baru, video itu menegaskan kembali bahwa New York City tetap menjadi target utama teroris,” kata pernyataan NYPD.

“Meskipun tidak ada ancaman spesifik untuk kota ini pada saat ini, kami akan tetap meningkatkan kewaspadaan dan akan terus bekerja sama dengan FBI, Satuan Gugus Tugas Gabungan Terorisme dan seluruh komunitas intelijen untuk menjaga kota New York aman.”

Walaupun demikian, Walikota New York, Bill de Blasio, mendorong warga New York untuk bekerja seperti biasa.

“Warga New York City tidak akan terintimidasi,” katanya. “Kami memahami, merupakan tujuan teroris untuk mengintimidasi dan mengganggu masyarakat demokratis kita. Kami tidak akan tunduk kepada keinginan mereka.”

Sebuah video serupa juga dirilis pada April, kata John Miller, wakil komisaris intelijen dan kontraterorisme NYDP.

“Ini merupakan video lama yang putar diulang,” katanya. “Yang sedang dilakukan ISIS ini adalah apa yang ISIS, Al Qaeda dan kelompok teroris lakukan, yaitu propaganda. Ketika kami melihat video itu, kami membuat catatan tentangnya, tetapi itu seperti banyak video yang telah kita lihat,” kata Miller.

Menurut analis terorisme CNN Paul Cruickshank, pihak berwenang tidak boleh mengabaikan video itu, terlepas apakah itu menjadi ancaman nyata atau tidak.

ISIS pertama kali menarik perhatian internasional ketika menguasai wilayah luas di Irak dan Suriah, meninggalkan jejak kekerasan dan kehancuran di belakangnya.

Upayanya membawa teror ke panggung global tampaknya terus berkembang. Bulan ini saja, ISIS telah mengaku bertanggung jawab atas serangan di Paris, jatuhnya sebuah jet penumpang Rusia di Mesir dan sepasang bom bunuh diri di Beirut.

Awal pekan ini, sebuah video lain yang dirilis ISIS mengancam akan menyerang Washington. Pihak berwenang di Ibukota AS itu mengatakan, mereka meningkatkan keamanan. FBI mengatakan sejauh ini “tidak ada ancaman khusus atau kredibel terhadap Amerika Serikat.”

New York Kerahkan Satuan Kontra Terorisme Menyusul Serangan ISIS di Paris

Setelah serangan pekan lalu di Beirut dan di Paris, kini Kota New York mengerahkan “komando tanggap darurat” berpelangkap khusus untuk melindungi kota itu dan untuk menggagalkan setiap aksi teror terorganisir yang mungkin kelak akan terjadi.

Sekitar 500 personel yang bertugas dalam satuan itu telah dilatih untuk mencegah serangan yang dilakukan oleh pelaku tunggal maupun beberapa serangan simultan yang terkoordinasi.

Warga Kota New York segera berpihak pada Perancis. Hari Senin lalu (17/11) banyak dari mereka memberikan penghormatan kepada para korban serangan di Paris dengan menyanyikan ‘La Marseillaise,’ lagu kebangsaan Perancis, dalam upacara yang sendu di Tugu Peringatan Serangan Teroris 11 September 2001 di New York.

Konsul Jenderal Perancis, yang yang menghadiri acara itu, menyebut serangan Jumat itu paling mematikan di bumi Perancis sejak Perang Dunia II.

“Itu adalah aksi perang. Kini Perancis berada dalam perang.” Kata Bertrand Lortholary

Komisaris Polisi Kota New York, William Bratton, membanggakan kemampuan satuan khusus itu, yang dilengkapi dengan senapan semi-otomatis M4 serta telepon pintar berteknologi yang ditingkatkan dalam kemampuannya untuk mengumpulkan data intelijen dan mencegah serangan, serta bergegas menuju tempat berbahaya jika diperlukan.

“Mereka telah dilatih dan akan menerima pelatihan yang diperluas terus-menerus tentang bagaimana menghadapi skenario penembak aktif, seperti yang kita saksikan di Paris, Perancis, sehingga kapan pun akan ada personel pasukan khusus ini yang bertugas di Kota New York,” kata  Komisaris Polisi Kota New York, William Bratton.

Bratton mengatakan pasukan dari satuan khusus itu tidak boleh hanya fokus pada tempat-tempat tujuan wisata penting, seperti Times Square, tetapi juga “sasaran-sasaran lunak,” misalnya restoran dan tempat-tempat konser, seperti dalam tragedi minggu lalu di Paris.

Dia mengatakan bahwa selambatnya bulan Juni 2016, Kota New York akan menambah 2.000 petugas yang mampu menangani hingga 24 serangan simultan di kota itu. (GL)

{adselite}

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
3,034PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles