spot_img

Mahasiswa Malu Melihat Carut Marut Birokrasi Sumut

MENARANews, Medan (Sumut) – Mahasiswa sebagai aktor intelektual, merasa sangat malu atas apa yang terjadi di dalam birokrasi Sumut. Masih menjadi pembahasan tentang penetapan tersangka kasus korupsi yang mendera Gatot Pujo Nugroho, Gubernur Sumut Non Aktif beserta Ketua DPRD Sumut, Ajib Shah. Tak hanya itu, beberapa petinggi di Sumatera Utara juga menjadi tersangka Korupsi Dana Bansos dan Suap Interpelasi Gubsu.

Seperti yang dikatakan beberapa mahasiswa saat ditemui di acara Konreg Adm. Publik se-Sumatera, Jumat (13/11). Sebut saja Icha, mahasiswi semester tujuh di Adm. Publik FISIP USU ini mengatakan, ini merupakan catatan buruk dari pemerintah Provinsi Sumut.

“Sebuah catatan buruk yah, orang nomer satu di Sumut beserta petinggi lainnya bisa jadi tersangka korupsi berjamaah,” ujarnya saat ditemui disela-sela acara.

Icha merasa malu atas apa yang mendera pemimpin provinsi yang seharusnya jadi pengayom masyarakat.

“Malu lah kayak gitu, seharusnya pemerintah kan memberikan contoh pada rakyatnya, bukan malah berbuat begitu demi kepentingan pribadi,” ujarnya.

Komentar juga datang dari Ketua Panitia Konreg, Risky Fadli Matondang. Dirinya beranggapan, kasus ini terjadi karena kurangya akuntabilitas pemerintah dalam menjalankan amanah rakyat. Seperti sebuah tamparan keras bagi Risky yang menggelar acara Konferensi Regional Adm. Publik. Dirinya merasa kaget pada saat Gatot ditetapkan menjadi tersangka.

“Kaget juga saya waktu dengar kabar itu dari Media, gak disangka Gatot jadi tersangka,”ujarnya.

Carut marut birokrasi di Sumatera Utara, menurut Risky disebabkan oleh masih tingginya paham nepotisme di Provinsi Sumut.

“Lihat ajahlah bang, pemerintah kita, rata-rata kalau mau masuk jadi apa gitu, harus punya saudara si inilah, si itulah, jadi Nepotisme ini yang membuat rumit,” katanya lagi.

Risky menambahkan, pihaknya menggelar acara ini juga sebagai langkah untuk mengubah perspektif masyarakat tentang pemerintahan Sumut yang selama ini dianggap buruk.

“Ini untuk mengubah brand negatif masyarakat terhadap pemerintah, acara ini harapannya digelar untuk mengubah brand tersebut,” katanya.

Semoga saja, Lanjut Risky, acara ini bisa menghasilkan pemuda pemuda yang bisa memperbaiki carut marutnya birokrasi di negara kita. (yug)

{adselite}

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
3,052PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles