Bupati Aceh Tengah Dukung Pemberdayaan Petani Kopi di Takengon

MENARAnews, Medan (Sumut) – Bupati Aceh Tengah, Nasaruddin (dua dari kanan) saat berpoto bersama seusia memberikan materi peningkatan kualitas dan kuantitas kopi pada Temu Kopi Sumatra 2015 yang diadalan oleh Lutheran World Relief di Hotel Grand Arya Duta. Medan, Selasa (3/10).

Sebagai kabupaten penghasil kopi jenis Arabica terbaik dari Aceh yang lebih dikenal dengan Kopi Gayo, Kabupaten Aceh Tengah khususnya Kecamatan Takengon memilik kontribusi besar dalam produksi dan ekspor kopi terbesar di Indonesia dan sangat diminati oleh Mancanegara.

Kopi Gayo menjadi varietas unggul yang dihasilkan oleh petani kopi di Takengon, dalam satu tahun bisa menanam mulai empat ratus ribu hingga dua juta bibit untuk ditanami di dataran tinggi Gayo tersebut.

Keunikan dan yang membuat Kopi Gayo tetap bertahan dalam kualitas karena perawatan dan konsumsi pohon kopi menggunakan bahan-bahan organik, misalnya pupuk, insektisida dan pestisida. Hal tersebut juga menggerakkan petenakan secara tidak langsung dalam rantai ekonomi.

“Kita selalu memasarkan Kopi Gayo kemana-mana melalui expo dan pameran, untuk di mancanegara kita sangat getol dan aktif memasarkan kopi khas Takengon ini,” ucap Bupati yang sudah menjabat dua periode tersebut kepada para peserta temu kopi.

Saat ini, Dinas Perkebunan Kabupaten Aceh Tengah sudah mengeluarkan lisensi kopi berkualitas terhadap hasil kopi di Takengon, hal itu menjadi sebuah kemajuan yang sangat cepat mengingat Aceh Tengah satu-satunya Kabupaten yang melakukan itu yang pada biasanya dikeluarkan oleh Dinas Perkebunan di tingkat provinsi.

Nasaruddin hanya menekankan kepada pengusaha kopi agar lebih memperhatikan nilai bagi hasil dari penjualan kopi dengan kisaran 65% hingga 75% dari hasil penjualan bisa dinikmati oleh petani. Hal itu disampaikan agar petani tidak merasa dirugikan dan berdampak pada peralihan kepada hasil kebun lainnya, misalnya kentang, jagung dan sawit yang memiliki keuntungan lebih besar.

“Kita hanya ingin petani kita sejahtera, setidaknya bisa makan dan menyekolahkan anak dan tidak mencari pekerjaan tambahan lainnya, ,melainkan fokus pada kopi. Menjadi petani kopi itu tidak gampang loh,” ujarnya.

Nasaruddin juga sangat mengapresiasi forum temu kopi tersebut, karena komposisinya sudah lengkap, baik dari petani kopi, pengusaha kopi, pemerintah dan Lembaga Swadaya Masyarakat.

Sebagai kepala daerah di Kabupaten Aceh Tengah, Nasaruddin sangat melindungi petani kopi yang ada di daerah tersebut. Bisa dilihat dari banyaknya koperasi petani kopi yang berdiri sebagai wadah untuk menampung hasil tani apabila harga di pasar sedang tidak baik.

“Koperasi kita manfaatkan untuk melindungi petani dari kerugian yang tidak bisa ditebak, kopi bisa disimpan disitu dan ketika harga sudah membaik bisa diambil kembali. Yaa itulah memang fungsi koperasi,” pungkasnya. (ded)

{adselite}

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
3,031PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles