spot_img

Bedah Buku ‘Kiprah Tokoh Katolik Indonesia’ dalam rangka Pelantikan DPC dan Pembukaan MPAB PMKRI Cabang Medan

MENARAnews, Medan (Sumut) – Dewan Pimpinan Cabang Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (DPC PMKRI) Cabang Medan menyelenggarakan diskusi bedah  buku yang berjudul “Kiprah Tokoh Katolik Indonesia” di Catolic Center, Jl Mataram no 21 Medan.

Hadir sebagai pembahas,  Mgr. AB Sinaga, OFM.Cap (Uskup Agung Medan), Henri Sitorus PhD (Sisiolog USU Medan) dan Stefanus Susanto sebagai salah satu tokoh yang kiprahnya turut dibahas dalam buku ini. Acara ini dihadiri oleh 300-an peserta yang terdiri dari anggota dan calon anggota muda PMKRI, undangan dari berbagai organisasi mahasiswa dan ormas katolik, Sabtu (31/10).

Dalam pemaparannya, Henri Sitorus PhD menyampaikan bahwa ketokohan yang ada dalam buku ini dapat dikategorikan dalam tiga aspek kehidupan berbangsa yakni ketokohan di wilayah politik, bisnis dan civil society.  Dalam situasi politik biaya tinggi dan  mengguritanya permasalahan korupsi di Negara kita, ketokohan pada kategori civil society menjadi harapan penting untuk perbaikan keadaan bangsa.

Selanjutnya kata Henri Sitorus PhD, Ajaran sosial Gereja katolik sesungguhnya mendorong gereja untuk berpolitik. Berpolitik yang dimaksud adalah ‘bonum komune’ atau perwujudan kebaikan bersama, dimana pilihan caranya tidaklah harus dalam bentuk perebutan kekuasaan di panggung politik.  Namun lebih dari itu, sebagai penghubung yang mempengaruhi hubungan antara warga dengan Negara dalam kehidupan sehari-hari (delibratif demokrasi).

Selama ini demokrasi kita berlaku hanya 3 menit, yakni di bilik suara, imbuhnya. Dalam situasi seperti itu, lanjut Henri, buku kiprah tokoh katolik ini layak untuk dibaca yang menginspirasi kita semua, walaupun dari aspek methodology perlu untuk dipertanyakan kriteria dan indicator untuk penentuan tokoh yang dimaksud dalam buku ini.

Stefanus Susanto yang juga merupakan Ketua Asosiasi Pemasok Pasar Modern menyampaikan bahwa seorang tokoh tidaklah terlahir begitu saja. Semua ada proses yang membentuknya. Sehingga kalau mau mencari inspirasi dari seorang tokoh penting juga untuk ditelaah bagaimana dia membentuk dirinya. Belajar dari pengalaman aktif di PMKRI, aktif di organisasi adalah kesempatan untuk melatih diri dan investasi untuk pergaulan sebagai bekal menjadi tokoh. Di organisasi seperti PMKRI, kita diajari untuk menyiapkan berkas,berdebat, pidato, dan tak kalah pentingnya yaitu bernegosiasi dengan orang lain. Dan itu semua adalah modal untuk berperan dan menjadi tokoh di masyarakat, imbuhnya.

Disamping itu, aktif dalam organisasi seperti PMKRI membuka ruang pergaulan yang luas, baik antara cabang PMKRI maipun dengan organisasi mahasiswa lain. Sehingga memudahkann kita untuk bekerja sama dengan tokoh-tokoh lain.

Misa Pelantikan DPC PMKRI Cabang Medan periode 2015/16

Setelah usai bedah buku, acara dilanjutkan dengan Misa pelantikan dan upacara nasional. Dalam khotbahnya pada misa pelantikan ini, Uskup Agung Medan menegaskan bahwa ada tiga darurat yang sekarang didepan mata kita. Dan untuk itu, ketokohan generasi muda diantara PMKRI dibutuhkan. Ketiga darurat itu adalah Darurat narkoba, Darurat remang-remang dan pornografi serta serta Darurat korupsi.

Uskup Agung menegaskan bahwa gereja katolik menaruh keprihatinan yang sangat mendalam terhadap situasi ini. Dalam ukuran tertentu, gereja telah melakukan berbagai hal disntaranya membangun pusat rehabilitasi narkoba bersama susteran KSSY. Tapi ini masih jauh dari cukup. Kita harus berusaha lebih keras, melibatkan umat dalammukuran yang lebih luas. Harapannya kepada pengurus PMKRI yang baru dilantik, agat ikut ambil bagian dalam menangani ketiga situasi darurat ini.

Dalam sambutannya, Ketua Presidum PMKRI Cabang Medan yang baru, Rikson Sihotang, menyampaikan keprihatinan atas Korupsi yang menggurita. Dalam lima tahun terakhir, sejumlah kasus korupsi besar di Indonesia terbongkar dan para penyelenggara negara menjadi pasien KPK. Puncak dari kasus korupsi adalah ditangkapnya Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini dan Ketua Mahkamah Konstitusi (Akil Mochtar) yang merupakan benteng terakhir penegakan hukum di negeri ini.

Tujuan dari penyelenggaraan negara sebagaimana ditulis dalam Pancasila dan UUD 1945 adalah kesejahteraan. Namun kenyataannya meski telah 70 tahun merdeka, pemimpin bangsa dan negara tidak mampu membawa rakyatnya ke gerbang kemakmuran. Bahkan penyelenggara negara terbukti mengabaikan masa depan rakyat dan negara dengan terkuaknya kasus-kasus korupsi. Yang terjadi kemudian adalah kesejahteraan hanya milik para penyelenggara/ penguasa negara serta kroni-kroninya.

Hal yang tak kalah tragisnya terjadi di Sumatera Utara. Operasi tangkap tangan KPK dalammkasus suap Hakim dan Panitera PTUN Medan yang berujung pada penahanan Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujonugroho, melengkapi record korupsi di sumatrra Utara: dua gubernur hasil pemilihan langsung menjadi pasien KPK setelah sebelumnya dua Walikota Medan (Ibukota Provinsi Sumatera Utara) lebih dahulu menjadi pasien KPK.

Tidak berhenti disitu, operasi tangksp tangsn ini menggelinding bagai bola salju, mengungkap satu persatu kasus korupsi di Sumatera Utara; korupsi dana bansos dan DBD. Sejumlah instansi terkait telah digeledah untuk kasus ini, dan hari ini 70 (tujuh puluh) anggota DPRD Sumatera Utara santrr terdengar sedang mengantri di markas Brimob untuk dimintai keterangan oleh KPK.  Politik kejam dan sekaligus mengabaikan masa depan bangsa serta negara yang dilakukan oleh para penyelenggara negara.

Benang merah yang terlihat adalah tidak adanya pemimpin (leader) yang memiliki karakter, bervisi strategis dan politis, serta berintelektual (bukan bersertifikat). Yang dimiliki para pemimpin sekarang adalah bermanuver politik.  Sehingga sekalipun gelarnya professor akhirnya jatuh juga dalam kepongahan politik karena serakah dalam berkuasa. Para pemimpin sekarang hanya piawai dalam bermanuver politik ini akhirnya menghasilkan solidaritas dengan sekat dan kesejahteraan bersekat-sekat.

Dalam konteks pertumbuhan generasi muda, PMKRI menaruh kekawatiran hilangnya panutan generasi baru yang kelak mengisi sendi kehidupan bangsa. Oleh karena itu, pada masa awal perkuliahan mahasiswa baru ini, kami mengajak seluruh kalangan untuk menggali keteladanan dari sejumlah tokoh bangsa yang secara nyata telah mendedikasikan hidupnya bagi kepentingan bangsa. Kegiatan bedah buku ‘Kiprah Tokoh Katolik Indonesia’ yang dilakukan dalam rangkaiannacara pelantikan ini, salah satunya dimaksudkan untuk menggali keteladanan ini.

Melalui kegiatan ini, PMKRI mengajak semua kalangan bekerja sama, agar menjadi bagian dalam penanganan masalah bangsa secara mendasar dengan menggali keteladanan dari para tokoh bangsa dan menginternalisasinya sebagai basis bagi pertumbuhan intelektualitas dan spiritualitas social.(jwt)

{adselite}

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
3,050PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles