Menggali Lebih Dalam Kenapa Indonesia Hanya “Tanah Surga Katanya” Bersama PMKRI

MENARAnews, Medan (Sumut)”Bukan lautan hanya kolam susu..katanya. Tapi kata Kakekku, hanya orang-orang kaya yang bisa minum susu. Kail dan jala cukup mengidupmu…katanya.

Tapi kata Kakekku, ikan kita dicuri nelayan-nelaya asing. Tiada badai tiada topan kau temui…katanya, tapi ayahku tertiup angin ke Malaysia. Ikan dan udang datang menghampirimu…katanya, tapi kata Kakekku ssssttt ada udang dibalik batu. Orang bilang tanah kita tanah surga…katanya.

Tapi kata dokter Intel yang punya surge Cuma pejabat-pejabat. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman…katanya. Tapi kata dokter Intel, kayu-kayu kita dijual ke negara tetangga. Orang bilang tanah kita tanah surge, tongkat dan batu jadi tanaman…katanya. Tapi kata Kakekku, belum semua rakyatnya sejahtera, banyak pejabat yang menjual kayu dan batu untuk surganya sendiri” seru Salman ketika membacakan puisi di salah satu scene film “Tanah Surga Katanya”, yang ditayangkan Perhimpunan Mahasiswa Katolik Replubik Indonesia (PMKRI) masih dalam serangkaian acara Bulan Inspirasi Mahasiswa, Sabtu (17/10).

“Film Tanah Surga Katanya merupakan film pertama Indonesia yang berani mengkritisi pemerintah secara langsung. Bagaimana kondisi pembangunan di Indonesia tidak merata terlebih di daerah perbatasan” papar Rikhson Wesley Sihotang (Presidium Pengembangan Organisasi PMKRI) selaku aspirator film pada kesempatan tersebut.

Pada kesempatan tersebut, Rikhson menghimbau bahwa sebagai seorang mahasiswa sudah sepatutnya kita prihatin dengan kondisi bangsa Indonesia. Contoh sepele adalah kondisi Kota Medan dengan masih adanya gelandangan dan pengemis di jalan jalan protokol Kota Medan. Cuplikan pada film juga menunjukan kekayaan sumber daya laut yang dimiliki Indonesia di perbatasan telah banyak dicuri oleh negara lain. Susi Pudjiastuti (Menteri Kelautan) telah menunjukan bahwa bangsa kita telah banyak mengalami kehilangan di sektor kelautan.

Rikhson juga menegaskan bahwa sebagai mahasiswa kita harus menggali kenapa Indonesia tidak mampu untuk menuju kesejahteraan yang merata karena terlalu banyaknya kepentingan. Pembangunan di Indonesia hanya terpusat di Ibu Kota Jakarta yang telah dipolitisir orang-orang kepentingan. Pemerintah Indonesia harus bertanggung jawab terhadap segala seluruh pengelolaan sumber daya alam. Presiden Joko Widodo merupakan presiden yang telah memberikan totalitasnya terhadap pembangunan bangsa.

Namun masih adanya sistem kepentingan yang mempengaruhi para pembuat kebijakan untuk merumuskan kebijakan yang cenderung lebih menguntungkan pihak kepentingan tertentu. Sehingga melalui kegiatan yang di selenggarakan oleh PMKRI, Rikhson berharap para mahasiswa bisa melakukan perubahan dari sistem kepemimpinan di Indonesia. selain itu dengan melakukan perubahan pada kesenjangan kemajuan antara pedesaan atau daerah perbatasan dan perkotaan adalah masih buruknya infrastuktur di Indonesia. Suatu daerah terpencil bisa maju dalam pembangunannya apabila dibangunnya bandar dan pelabuhan sehingga desiminasi kebutuhan dan sumber daya alam tidak mengalami kendala.(Jwt)

{adselite}

Comments
Loading...