Penanganan Karhutla Jambi Terkendala Visibility Dan Air

MENARAnews, Jambi – Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Provinsi Jambi, yang dipimpin langsung, Danrem 042/Gapu, Kolonel Inf Makmur, selama 14 hari, terkendala jarak pandang dan akses air.

Dari keterangan, Kapenrem 042/Gapu Mayor Inf Imam Syafe’i, jarak pandang (visibility) dan akses air yang sulit membuat pemadaman api sulit dilakukan.

“Penanganan kebakaran ini kan kita lakukan melalui dua cara, yakni, melalui udara lewat water bombing dan hujan buatan, serta operasi darat dengan datang langsung ke titik api. Dan kedua cara ini ada kesulitan masing-masing. Dari udara kita kesulitan karena jarak pandang yang sulit, sementara dari operasi darat kita dibatasi oleh akses air,” ungkapnya.

Meski demikian, katanya, jika dilihat dari jumlah hot spot dan luasan lahan yang terbakar mencapai 7.212 hektar, progress penanganan Karhutla di Jambi ini sudah sangat baik. “Hot spot kita beberapa hari ini berkurang, bahkan sempat nihil,” ungkapnya.

Kesulitan lainnya, kata Imam, asap yang masih ada saat ini bersumber dari lahan gambut yang terbakar, dan untuk pemadaman, harus dilakukan secara optimal.

“Gambut yang terbakar inikan di kedalaman 10 sampai 12 meter, butuh air yang banyak untuk benar-benar membuatnya padam. Sementara akses air kita terbatas. Oleh karenanya, untuk menyiasati itu, kita aliri kanal-kanal yang sudah ada dilahan gambut itu, salah satunya yang sudah berhasil di daerah Manis Mato,” ungkapnya.

“Masyarakat juga harus tau, memadamkan api ditanah mineral berbeda dengan non mineral. Bayangkan, untuk lahan gambut ini, kita harus melakukan penyemprotan sampai seperti bubur, itu untuk memastikan bahwa api itu benar-benar padam,” tambahnya lagi.

Terkait rencana pembentukan Pansus Penanagan Asap yang akan dibentuk DPRD Provinsi Jambi, Kapenrem 042/Gapu ini mendorong, agar wacana itu benar-benar direalisasikan.

“Kita mendorong itu terealisasi, itukan untuk stabilitas masyarakat banyak. Apalagi masalah ini sudah terjadi hampir setiap tahunnya. Dengan adanya regulasi yang jelas, penanganan kedepan juga akan mudah dilakukan,” ujarnya.

Imam juga menyampaikan pesan, Danrem 042/Gapu untuk masyarakat Jambi, agar mengurangi aktifitas diluar rumah, apalagi saat ini katanya, ISPU sudah mencapai 315 (kategori berbahaya).

Terpisah, Kepala BPBD Provinsi Jambi, Arif Munandar, membeberkan, bahwa belum maksimalnya upaya penanganan Karhutla saat ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya, visibility (jarak pandang) yang tidak memungkinkan bagi helikopter maupun pesawat untuk melakukan pemadaman melalui udara atau water bombing.

“Untuk pemadaman melalui udara itu, minimal visibility untuk helikopter itu 1.500 meter horizontal dan 500 untuk visibilty vertikal. Sementara beberapa minggu ini  visibility untuk horizontal itu rata-rata dibawah 1.000 meter. Jadi tidak memungkinkan untuk melakukan water bombing,” ungkapnya.

Dengan belum optimalnya penanganan Karhutla di Jambi selama 14 hari kerja periode pertama ini, Satgas Karhutla Jambi kembali menambah masa penanganan Karhutla Jambi selama 14 hari kedepan.

Sementara itu, ditengah kecamuk asap dan ISPU kategori berbahaya ini, Penjabat (Pj) Gubernur Jambi, H Irman, kembali meninggalkan masyarakatnya.

Dari informasi yang disampaikan ajudannya kepada salah seorang wartawan, Pj Gubernur meninggalkan Jambi masih dalam urusan kerja.

“Menghadiri permintaan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Luhut Binsar Panjaitan, dan juga Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, untuk membahas penanganan kabut asap dan Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jakarta,” kata Rizki Adc Gubernur Jambi, (29/9) kemarin.

Selain Pj Gubernur, kata Rizki, turut mendapat undangan Kapolda Jambi, Panglima TNI, Kepala BMKG Pusat, kepala BPPT, kepala BNPB pusat, Gubernur Riau, Gubernur Kalimantan Barat, Tengah dan Selatan.

Beberapa waktu lalu, Irman, juga sempat meninggalkan Jambi hampir dua minggu lamanya, dari sejumlah informasi, Pj Gubernur pengganti HBA ini turut pula menghadiri Sail Tomini di Sulawesi Tengah, yang juga dihadiri Presiden RI, Ir Joko Widodo.

Ditanya sejumlah wartawan, tentang kepergiannya, Irman mengatakan, bahwa kepergiannya dalam rangka mencari bantuan untuk penanganan Karhutla di Jambi.

Tidak berbeda jauh, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, Rahmat Derita, yang juga bagian dari Satgas Karhutla Jambi, juga tidak sedang berada di Jambi.

Dari keterangan, Kapenrem o42/Gapu, Imam Syafi’i, dalam forum pertemuan dengan Pj Gubernur Jambi baru-baru ini, mengatakan, bahwa Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jambi termasuk anggota Satgas yang terbilang tidak aktif.

Padahal. kata Imam, Dinas Pendidikan sebagai anggota Satgas harus aktif dalam penanggulangan Karhutla saat ini. Karena Satgas tidak hanya berkaitan dengan asap, tapi juga berkaitan dengan banyak hal termasuk pendidikan.(RN)

Comments
Loading...