Paket Kebijakan Ekonomi Jokowi Melempem, Rupiah Kembali Terbenam ke Level Rp 14.600/USD

MENARAnews, Makro – Sudah dua pekan paket kebijakan ekonomi pemerintahan Jokowi diluncurkan  sejak Rabu (09/09/2015), dengan harapan mampu mengatasi pelemahan ekonomi global. Namun sayangnya paket kebijakan ekonomi tersebut ternyata belum mampu memberikan dampak yang signifikan terhadap kondisi perekonomian Indonesia.

Walapun pelemahan nilai tukar rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, pelemahan tersebut juga merupakan indikator yang menunjukkan bahwa paket kebijakan ekonomi tersebut belum efektif dalam menarik respon positif para pelaku pasar.

Hal ini terbukti dari nilai tukar rupiah yang kembali terpuruk dan terbenam terhadap dolar AS. Pada awal perdagangan di pasar spot, Rabu (23/09/2015), rupiah terhempas ke level Rp 14.600 per dolar AS.

Mengutip data Bloomberg, pada pukul 11.30 WIB WIB rupiah berada pada level Rp 14.647 per dolar AS, melemah 95 poin dari posisi sebelumnya yang berada pada posisi Rp 14.552 per dolar AS. Selain itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada pada posisi Rp 14.637 per dolar AS.

Reuters melaporkan bahwa dolar AS memang saat ini mengalami kenaikan terhadap sejumlah mata uang utama menjadi 96,471.

Berdasarkan keterangan dari Analis Esandar Arthamas Berjangka, Tonny Mariano, penyebab melemahnya rupiah adalah spekulasi kenaikan fed fund rate kembli muncul ke permukaan. Hal ini dikarenakan, The Fed sempat membuat pernyataan bahwa masih terdapat peluang bank sentral akan melakukan perubahan suku bunga pada Oktober atau Desember nanti.

“Rupiah sekarang akan sulit bangkit, apalagi pemerintah belum melakukan langkah kongkrit untuk mendorong kenaikan rupiah dalam beberap waktu kedepan,” ujarnya.

Josua Pardede, Ekonom Bank Permata menyebutkan, saat ini pelaku pasar merasa lebih nyaman memegang dolar AS karena adanya spekulasi The Fed. Josua memperkirakan untuk saat ini rupiah masih sulit untuk bangkit. Apalagi, aksi jual di bursa saham masih tinggi. Rupiah berpeluang untuk bangkit apabila data manufaktur China membaik.  (AD)0

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
3,031PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles