Keuntungan Pedagang Buku Meningkat Ketika Musim Buku

MENARAnews, Medan (Sumut) – Tahun ajaran baru pendidikan dimanfaatkan pedagang buku di Jalan. Pegadaian, Medan untuk mencari keuntungan lebih dari hari biasanya. Pasalnya konsumen pasti akan lebih banyak ketimbang hari hari biasa pada musim buku.

Frans salah satu pedagang buku mengatakan keuntungannya meningkat 50% dari hari biasanya. Keuntungan 50% ini didapatkan ketika musim tahun ajaran anak sekolah. Berbeda dengan tahun ajaran mahasiswa baru. “Kalau anak sekolah itu kebanyakan turun langsung, jadi para pedagang itu rata dikunjungi sama pelanggan”, katanya saat ditemui di kiosnya , Rabu (30/9).

Sedangkan pada tahun ajaran mahasiswa baru, lanjut frans, jarang mereka turun langsung ke pasar buku kebanyakan ada yang menitipkan sama teman.

Harga yang cukup miring menjadi daya tarik konsumen berbelanja buku di kawasan pasar buku ini. Untuk buku bekas biasanya dijual variatif harganya. Sesuai dengan kesepakatan penjual dengan pembeli. Sedangkan untuk buku baru dengan kualitas original dijual dengan potongan harga sampai 30% dari banderol.

Kebanyakan yang berbelanja buku bekas di pasar ini adalah anak sekolah yang datang dengan orang tuanya. Karena orang tua lebih memilih buku bekas daripada harus membeli baru. Berbeda dengan kalangan mahasiswa yang memilih buku baru karena mengedepankan kualitas.

“Itulah, kalok siswa ini sama mamaknya, jadi milih buku bekas”, katanya.

Fadli salah satu pedagang juga mengakui peningkatan pendapatan pada musim buku. “Kalau musim buku ini sedikit bertambah lah, walau tak tentu juga keuntungan satu harinya berapa” , katanya.

Sebelum musim buku biasanya pedagang hanya mampu mendapat omset rata – rata  dua juta rupiah perbulannya. Namun pada musim buku pedagang bisa meraup keuntungan hingga Rp. 5 Juta dalam sebulan.

Di sepanjang jalan Pegadaian berdiri 180 Kios yang menjual berbagai macam jenis buku. Lebih dari 200 pedagang menggantungkan hidupnya di kawasan pasar buku ini.

Sejarah terbentuknya pasar buku di kawasan Kota Medan cukup panjang. Pedagang buku sudah ada sejak tahun 1960 an. Awalnya tersebar dipemukiman warga di kecamatan Jalan Buntu, lalu merambah kawasan Titi Gantung Stasiun KA. Namun, pada tahun 2003 seluruh pedagang dipindahkan ke Lapangan Merdeka tepatnya di sisi Timur.

Tak hanya itu, pedagang kembali dipindahkan ke Jalan Pegadaian pada tahun 2012. Pemindahan ini diakibatkan pembangunan City Check In di sisi timur Lapangan Merdeka. Pemerintah berjanji untuk kembali membangun kios buku di lapangan merdeka. Namun hingga kurun waktu 2015 pembangunan belum juga selesai. (yug)

Comments
Loading...