spot_img

Deputi BNPB: Maksud Presiden Canal Blocking, Bukan Kanalisasi

MENARAnews, Palangka Raya (Kalteng) – Ide pembuatan kanal oleh Presiden Joko Widodo, saat berkunjung ke kawasan kebakaran hutan di Kabupaten Pulang Pisau akhirnya terjawab. Pembangunan kanal dimaksud adalah sekat kanal gambut (canal blocking)  bukan sistem kanalisasi.

Gunanya untuk menyimpan air  dan direncanakan pembuatan kanal sepanjang 5 km di kawasan Tumbang Nusa. Untuk melakukan penyelamatan lingkungan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hingga gambut sepanjang tahun basah dan tidak mudah terbakar atau dibakar.

Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB Tri Budiarto mengatakan maksud.presiden bukanlah kanalisasi,  melainkan kanal blocking yang berfungsi untuk persediaan air dan menjaga ekosistem gambut. 

“Tata kelola air kawasan hutan dan lahan juga dilakukan, hingga penanganan lahan gambut yang sedang terbakar mudah dilakukan.” katanya, Sabtu (26/9/2015).

Disebutkan, saat ini BNPB sudah memobilisasi pasukan dan alat berat berupa tiga eksavator. Dimana Panglima TNI  memerintahkan Danrem setempat untuk mencari pinjaman alat berat kepada perusahaan.

Lebih lanjut, BNPB mendukung apa yang diminta oleh daerah. Mulai kemarin malam pihaknya memobilisasi alat guna membikin canal blocking hingga dalam waktu tiga minggu, air bisa dikendalikan dan pembangunan kanal diselesaikan.

” BNPB optimis mampu mengatasi kejadian besar ini.” tegasnya.

Sementara itu, Kepala BPBD Kalteng,  Brigong Tom Mandez menuturkan hingga saat ini pemerintah sudah menghabiskan anggaran sebesar Rp 1 Miliar sejak musibah kebakaran hutan terjadi. Dimana telah diterjunkan lebih dari 1.884 personil dalam pemadaman api.

Adapun kendala dilapangan yakni peralatan pompa portabel, sumber air, dan selang. Sebab BPBD hanya memiliki 16 pompa. Namun direncanakan akan dibantu 15 pompa, tetapi hingga kini belum disampaikan dan masih dalam pengiriman.

Brigong menerangkan hingga tanggal 25 September, di seluruh Kalteng tercatat luas lahan terbakar sekitar 759,5 hektar dan mampu dipadamkan hanya seluas  388,3 hektar. Sedangkan titik panas kompiden sebanyak 38 titik.

“Arti kompiden itu yang pasti ada titik panasnya.” jelasnya.

Sedangkan untuk terdeteksi , lanjut Brigong, untuk titik panas sebanyak 179 titik. Dengan rincian Barsel 1, Bartim 4, Kapuas 34, Katingan 9, Kobar 16, Kotim 23, Pulpis 64, Seruyan 15, Sukamara 5 dan Palangka Raya 8 titik.

“Untuk dana, TNI Rp 1,873 miliar, Polri Rp 970 juta dan Lanud Rp 333 juta menggunakan bom air dan dibantu 3 helikopter. Sementara untuk dana BPBD Kalteng  yang dimintakan Rp23 miliar belum keluar,” ungkapnya.(Ferry Wahyudi)

Editor : Raudhatul N.

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
3,042PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles