Jefri Hendrik Jadi Sekretaris PAN Jambi

MENARAnews, Jambi – setelah melewati pembahasan yang alot dan terjadi juga konflik diinternal PAN Jambi terkait penyusunan kepengurusan baru dibawah kepemimpinan Zumi Zola selaku ketua DPW terpilih pada Muswil lalu. Akhirnya posisi Sekretaris diduduki oleh Jefri Hendrik yang menyingkirkan kader PAN dalam perebutan posisi sekretaris DPW PAN provinsi Jambi. Dengan keputusan ini kader PAN dianggap tak mampu bersaing sehingga dipilih dari eksternal untuk meningkatkan daya saing PAN di Jambi.

Ketua DPW PAN Provinsi Jambi, Zumi Zola Zulkifli memastikan tidak ada permasalahan lagi terkait pembentukan kepengurusan yang ia pimpin. Mulai dari sekretaris sampai kebawah sudah selesai semua dan saat ini tim formatur sedang berada di Jakarta untuk mengirimkan surat, tinggal menunggu keputusan DPP.

“Posisi sekretaris tetap satu nama (Jefri_red) itu yang kita ajukan dan bang Saiful Azwar di Bappilu. Ya tidak ada masalah lagi,”  ujarnya saat dijumpai usai mengikuti buka bersama di markas BPP ZZ.

“Setelah dari DPP keluar, kita akan segera menggelar pelantikan kepengurusan DPW,” sambungnya.

Zola juga menegaskan tidak ada polemik lagi, karena politik itu memang begitu. Ia sangat bersyukur kepada semua kader PAN itu semangatnya satu adalah untuk semakin memperkuat dan membesarkan partai.

Menurutnya, agenda politik PAN bukan hanya di tahun 2015 ini saja, akan tetapi ada agenda yang lebih besar lagi di tahun 2019, untuk itu partai butuh kader-kader yang militan, mau bekerja all out untuk partai.

“Insya Allah, dengan susunan yang ada saat ini sudah kita pertimbangkan oleh tim formatur juga, dengan teman-teman yang lain bahwa ini sudah tepat dengan posisi masing-masing,” sebutnya.

Sementara itu, menurut pengamat politik, Edi Indrizal jika misalnya dalam penyegaran kepengurusan partai adanya kader yang masuk notebenenya merupakan pindahan dari parpol lain itu hal yang wajar-wajar saja.

“Permasalahan ini dari dulu pasca reformasi cukup sering terjadi kader yang pindah partai,” sebutnya.

Dikatakan Edi, jika dikaitkan dengan konteks pilgub Jambi, yang mana diketahui Jefri ini merupakan kader dari partai Demokrat, dan Demokrat sendiri tempat bernaungnya sang petahana HBA, sementara antara partai Demokrat dan PAN sudah dipastikan akan bersaing pada pilgub mendatang. Artinya, jika Jefri nantinya memang menduduki posisi strategis di kepengurusan DPW PAN tentu akan menjadi pro kontra. Menariknya yang perlu dianalisis lebih jauh itu karena Jefri ini berasal dari partai Demokrat.

“Pro kontranya nanti ada yang menganalisa kenapa tiba-tiba bisa jadi duri dalam daging, jadi spionase misalnya, karena biasanya orang juga tidak begitu mudah loyalitasnya lepas begitu saja,” sebutnya.

Oleh karena itu, kata Edi, tinggal di PAN sendiri bagaimana mengklarifikasi dan menjelaskan tentunya ini ujian bagi Jefri untuk kader-kader PAN yang mengkritik Jefri supaya yang bersangkutan memang betul-betul bisa menunjukan loyalitasnya dan memang loyalitas yang penuh baik kepada ZN maupun kepada PAN.

“Walaupun si Jefri kader yang berlatarbelakang bukan dari politisi dan kader murni PAN. Jadi itu tantangan bagi Jefri. Tapi disisi lain, ini bisa menjadikan lemahnya semangat kader murni PAN yang merasa sudah lama berkeringat tapi tiba-tiba kemudian dipotong karirnya dari kader luar,” jelasnya.

Menurut Edi, artinya hal seperti sekaligus bisa jadi oto kritik. Dilihat dari persepektif konsiliasi ia melihat ini sekaligus menunjukan pemilihan kepengurusan di Jambi berarti masih cukup kental dipengaruhi oleh ketokohan dan sosok ZN yang memang begitu penting di PAN Jambi khususnya.

“Sebetulnya ini masih bentuk praktek oligarki di parpol. Jadi siapa yang “kuat” secara politik sekaligus kuat secara ekonomi dan ia yang kemudian menentukan arah partai dan seakan-akan partai adalah miliknya,” tukasnya. 

Dikatakan Edi, kalau untuk penunjukan sekretaris, itu biasanya lebih kepada diminta oleh ketua terpilih. Akan tetapi lazimnya yang betul-betul memakai nantinya itu adalah sang ketua, artinya Zumi Zola nya bukan ZN.

“Tapi itu suatu hal yang wajar, karena ini sudah menjadi ciri khas dari demokrasi kita, mulai ikatan primodial, oligarki, karena adanya pengaruh tokoh-tokoh kuat dan itu masih juga diterapkan,” pungkasnya. (GWA)

Related Articles

Stay Connected

0FansSuka
3,031PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles